Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Keterampilan Pekerja di Negara ASEAN Tak Sesuai, Integrasi Ekonomi Kawasan Terancam

📅 Sabtu, 22 Apr 2023, 13:41 WIB | Oleh: Tim Penulis

Tentu saja, tidak ada suatu solusi yang bisa mencakup keseluruhan permasalahan. Negara-negara ASEAN perlu mengintegrasikan kurikulum pendidikan yang memiliki standardisasi internasional dan menggerakan kerja sama regional dan internasional. ASEAN University Network - jaringan universitas yang didirikan pada 1995 untuk meningkatkan sumber daya manusia di kawasan - perlu dikembangkan dan dimanfaatkan agar bisa secara kolektif menyelesaikan masalah skill mismatch di ASEAN.

Cara lain yang bisa ditempuh adalah melakukan standardisasi pelatihan kerja lewat modul, sehingga negara-negara dapat memahami bagaimana tahapan yang diperlukan untuk kerja sama lintas negara. Dengan berbagi pengalaman, negara-negara dapat mengetahui proses apa saja yang perlu dilakukan dan mengaplikasikannya ke negara masing-masing.

Tahapan yang bisa dilakukan tergantung level pembangunan negara ASEAN. Negara yang masih awal dalam industrialisasi seperti Laos dan Kamboja, berfokus pada kemampuan literasi dan numerasi. Sedangkan, negara eksportir seperti Indonesia dan Thailand seharusnya bisa menggunakan institusi pendidikan menyediakan tenaga berkualitas dan pelatihan. Sementara, negara yang memiliki teknologi mutakhir Singapura dan Malaysia bisa berfokus pada kemampuan teknis tinggi seperti komputer, teknik, dan matematika.

Secara gradual, harapannya setiap negara bisa tumbuh sesuai dengan keterampilan industri dan perkembangan pengetahuannya.

Masyarakat Ekonomi ASEAN seharusnya bahu-membahu dalam menciptakan kesejahteraan bersama dan menjembatani disparitas untuk menuju kondisi integrasi ekonomi yang ideal.

Tulisan ini adalah bagian draft dan seri awal "Future of Works and Education" untuk usulan ASEAN Youth Agenda 2023 dan ditulis bersama dengan Ghifari Firman (Peneliti Ekonomi Pembangunan). Terima kasih atas komentar dari Angelo Wijaya (Co-Chair ASEAN Youth Agenda 2023) yang melengkapi diskusi artikel ini.The Conversation

Alexander Michael Tjahjadi, Assistant researcher, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.