Keterampilan Pekerja di Negara ASEAN Tak Sesuai, Integrasi Ekonomi Kawasan Terancam
📅 Sabtu, 22 Apr 2023, 13:41 WIB | Oleh: Tim PenulisBelum lagi, ASEAN juga harus menghadapi tantangan berupa automasi pekerjaan, yang berkembang seiring dengan semakin canggihnya teknologi. Automasi merujuk pada aplikasi teknologi dalam proses produksi yang mereduksi peran manusia.
Laporan OECD menunjukkan bahwa negara yang paling rentan dengan automasi adalah Vietnam, Kamboja, dan Indonesia. Pasalnya, negara-negara tersebut mayoritas didominasi oleh industri manufaktur padat karya dan tengah mengalami perkembangan teknologi yang cukup masif.
Hal ini memunculkan kebutuhan akan tenaga kerja yang mampu menjalankan teknologi tersebut. Walaupun mendorong produktivitas dan juga kontribusi dalam perekonomian, automasi berpotensi menimbulkan disparitas pendapatan di masyarakat. Mereka yang tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi terancam kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Fenomena ini dikenal dengan istilah multidimensional skill mismatch. Ini menggambarkan bagaimana seharusnya pekerja memiliki alokasi yang sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya, namun ternyata terdapat ketidakcocokan keterampilan sehingga tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jika tak diatasi, hal ini berpotensi menimbulkan scarring effect atau efek memar, merujuk pada tingginya tingkat pengangguran, menurunnya tingkat pendapatan, dan sulitnya mencari pekerjaan layak dalam jangka panjang.
Dampaknya, dimensi disparitas pendapatan pun makin meluas. Disparitas pendapatan bukan lagi terkait masyarakat pendapatan tinggi dan rendah atau lintas tingkat pendidikan, tetapi juga untuk masyarakat yang bekerja sesuai dan tidak sesuai dengan keterampilan yang dimiliki.
Bahkan, bisa saja multidimensional skill mismatch membuat disparitas pendapatan semakin mengakar dan lintas generasi. Contohnya, masyarakat berpendapatan tinggi dapat mengakses pendidikan berkualitas, sehingga mereka dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memiliki keterampilan sesuai dengan pekerjaan yang tersedia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sedangkan, masyarakat berpendapatan rendah hanya dapat mengakses pendidikan seadanya yang menyebabkan keterampilan mereka tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Akibatnya, pendapatan mereka lebih rendah dari yang rata-rata upah yang mereka dapat terima. Hal ini disebabkan oleh keterampilan mereka yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.
Pengaruhnya adalah pekerja menjadi sulit untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik. Bukan tidak mungkin, kesenjangan semakin melebar di antara negara-negara ASEAN yang tingkat kemajuan ekonominya memang belum merata dan masih berjarak.
Jika keterampilan dari pekerja tidak sesuai, maka negara-negara di ASEAN sulit untuk mewujudkan pasar tunggal ekonomi dan sebagian di antaranya berpotensi terperangkap dalam jebakan negara berpendapatan menengah.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Kerangka pemerintah ASEAN menawarkan rekomendasi untuk menggerakkan kurikulum pendidikan menuju digitalisasi. Namun, bertambahnya tenaga kerja yang memiliki keterampilan rendah menjadi tantangan besar.
Negara ASEAN bisa melakukan transformasi pendidikan untuk membuat pekerjanya lebih siap untuk mengambil kesempatan di pasar terintegrasi. Transisi tenaga kerja yang memiliki keterampilan juga dapat dilakukan melalui sekolah vokasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!