Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pengobatan Ida Dayak Memikat Ribuan Orang, Kenapa Mereka Percaya?

📅 Kamis, 20 Apr 2023, 13:47 WIB | Oleh: Tim Penulis

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat non-Barat yang sebagian besar tidak memiliki kerangka berfikir kognitif guna menjelaskan suatu penyakit. Contohnya, kita tidak memiliki kosakata kedokteran ilmiah Barat dan cenderung memberi nama penyakit sesuai dengan kebudayaannya. Istilah "masuk angin", misalnya, cuma dikenal di Indonesia.

Masyarakat yang berobat ke Ida Dayak, sebagian besar adalah masyarakat personalistik yang mempercayai penyakit lebih disebabkan oleh intervensi dari suatu agen aktif. Agen tersebut bisa dianggap makhluk supranatural, makhluk bukan manusia (hantu, roh jahat), maupun manusia yang memiliki kemampuan gaib (tukang santet).

Dalam kasus pengobatan minyak bintang, tidak semua pasien mempercayai penyakitnya berasal dari hal gaib. Namun, mereka tetap percaya ada sesuatu kekuatan tertentu di luar rasionalitas yang bisa mempercepat proses penyembuhannya.

Kondisi tersebut membuat pengobatan personalistik minyak bintang lebih dianggap rasional daripada pengobatan medis modern. Sebab, pengobatan modern membatasi kerangka berfikir kondisi sakit atau penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan menggunakan zat-zat atau obat yang telah lulus uji klinis.

Umumnya masyarakat perkotaan lebih mempercayai pengobatan medis naturalistik dibandingkan personalistik. Dalam kasus Ida Dayak, masyarakat bisa percaya karena telah "putus asa" menanti kesembuhan bertahun-tahun dengan rutin berobat medis tanpa adanya hasil.

Hal ini membuat masyarakat melirik pilihan pengobatan alternatif.

Rahasia "sukses" Ida Dayak: praktikkan komunikasi konteks tinggi

Ada dua tingkatan komunikasi: komunikasi konteks tinggi dan rendah.

Komunikasi konteks tinggi berfokus pada makna, nada yang mendasari pesan dan bukan hanya kata-kata itu sendiri. Sedangkan komunikasi konteks rendah menunjukkan pesan komunikasi disampaikan secara eksplisit (langsung) sehingga tidak ada risiko kebingungan.

Komunikasi konteks tinggi membuat makna pesan tertanam jauh di dalam informasi, sehingga tidak semuanya dinyatakan secara eksplisit ketika diucapkan.

Dalam budaya komunikasi konteks tinggi, pendengar diharapkan mampu membaca pesan 'tersirat", untuk memahami makna yang tak terucapkan.

Mudahnya, ada banyak orang Indonesia lebih suka berkomunikasi dengan cara berbasa-basi dan menyentuh empati dibandingkan menyampaikan pesan secara langsung. Antropolog Amerika Edward T. Hall menyebut kondisi ini dengan menempatkan budaya dalam rangkaian yang panjang.

Komunikasi konteks tinggi lebih banyak dipraktikan oleh masyarakat Asia, termasuk Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Luar Negeri
Inggris Hadapi Ancaman Rese...
Nasional
RI Butuh Lebih Banyak Wirau...

Anugerah Jurnalistik KWP 2026

10 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Anugerah Jurnalistik KWP 2026

Perwakilan ICRC Temui Aung San Suu Kyi

15 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Perwakilan ICRC Temui Aung ...
Olahraga
Kabar Gembira, Reno Salampe...
Luar Negeri
Tiongkok Waspadai Risiko Ke...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.