Di Banjarmasin, Tiga Guru Penggerak Pacu Transformasi Pendidikan Terus Berdetak
📅 Selasa, 18 Apr 2023, 14:12 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rupSesama Guru Penggerak di SMPN 1 Banjarmasin, Norliani, terdorong mengikuti program Guru Penggerak agar bisa menumbuhkan budaya positif baik di lingkungan sekolah maupun komunitas. Untuk siswa, dia menyadari bahwa tugasnya sebagai pendidik bukan sekadar mengajar, namun lebih dari itu yakni menuntun siswa secara holistik.
"Artinya, baik secara akademik maupun non-akademik, sikap dan perilakunya, supaya dia (siswa) mencapai kebahagiaan dan keselamatan di masa depan," ungkapnya.
Guru matematika ini memulai perubahan dari hal-hal kecil yang jika dilakukan terus menerus dapat menjadi kebiasaan baik. Salah satunya adalah membuat kesepakatan dengan siswa di kelas. Siswa diajak menyepakati konsekuensi jika terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut, sehingga siswa menjadi disiplin tanpa dipaksa.
"Kalau dulu tidak ada kesepakatan kelas. Gurunya yang mengatur, harus begini, harus begini, tidak ada kemauan siswa yang diakomodir. Kalau sekarang, siswanya mau apa? Disepakati bersama," jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam pembelajaran, Norliani lebih banyak membuat permainan untuk menerapkan konsep-konsep Matematika dengan memanfaatkan dadu dan kartu, misalnya. Menurutnya, cara tersebut efektif untuk menarik perhatian siswa belajar matematika.
"Alih-alih menjadi momok, siswa justru bertambah minat terhadap mata pelajaran matematika," imbuhnya.
Pengalaman menarik juga dia rasakan ketika berkolaborasi dengan para guru. Kolaborasi tersebut dilakukan lakukan lintas jenjang. Bersama guru-guru itu, dia juga membuat program Klub Matematika. "Saya harap akan tergerak menjadi Guru Penggerak agar pendidikan kita makin maju, karena mindset kita akan berubah, yang tadinya belum bisa bergerak akan menjadi bergerak, tergerak, dan menggerakkan," harapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pembelajaran Diferensiasi
Guru Penggerak tidak hanya diikuti oleh guru dari sekolah negeri saja. Semangat Merdeka Belajar pada akhirnya mendorong semua pihak untuk melakukan transformasi pendidikan.
Guru Penggerak SMA Islam Terpadu Ukhuwah Islamiyah Banjarmasin, Risma Yuhani, mengaku mendapat banyak pengalaman berharga dan bermakna. Salah satunya cara merancang pembelajaran diferensiasi sesuai kebutuhan siswa.
Guru mata pelajaran biologi ini mengakomodasi kebutuhan belajar siswa yang berbeda-beda dengan memperbanyak diskusi dan praktik. Kini ia bisa merasakan suasana dan minat belajar siswa di kelas yang berbeda dengan sebelumnya.
"Dengan melakukan pembelajaran yang berdiferensiasi, pembelajaran lebih senang bagi siswa dan sesuai dengan kebutuhan mereka," katanya.
Risma menuturkan, ketika dia menerapkan pembelajaran diferensiasi, para siswa terpacu untuk mengutarakan pendapat. Di akhir pembelajaran, ada sesi refleksi untuk mendengar pendapat siswa tentang materi yang didapat dan proses pembelajaran selanjutnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!