Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Impor Beras Jatuhkan Harga Gabah Petani

📅 Rabu, 05 Apr 2023, 07:53 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Impor Beras Jatuhkan Harga Gabah Petani Doc: istimewa

JAKARTA - Sejumlah kalangan menolak keputusan Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengimpor beras dua juta ton tahun ini. Langkah tersebut membuat harga beras di tingkat petani jatuh.

Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi, mengatakan petani berharap kebutuhan beras dapat dipenuhi sendiri, tanpa harus impor. Dirinya tak setuju dengan pernyataan kepala Bapanas bahwa impor tak membuat harga di tingkat petani jatuh.

Karena itu, SPI dengan keras menolak keputusan Bapanas mengimpor beras dua juta ton tahun ini yang mana tahap pertama sebanyak 500 ribu ton.

"Kondisi harga yang sekarang saja sebenarnya masih belum menguntungkan petani. Apalagi kalau terus turun lagi karena impor," tegas Qomar pada Koran Jakarta, Selasa (4/4).

Menurut dia, Bulog yang mendapat penugasan sebenarnya bisa menjalankan perannya untuk menyerap dan memperkuat cadangan beras pemerintah. Karena itu, untuk mengoptimalkan penyerapan harus ada penyesuaian harga.

Secara umum, laporan dari temen-teman memang ada penurunan harga meskipun masih di atas 5.000 rupiah, harga yang ditetapkan Bapanas.

Dia juga melihat kebijakan impor pangan ini tidak berada di momen tepat karena saat ini di beberapa wilayah Indonesia tengah panen raya. Meskipun ditujukan sebagai cadangan beras pemerintah (CBP) dan untuk program bantuan sosial, namun pengumuman impor beras dalam waktu dekat ini pasti berpengaruh, baik itu secara psikologis maupun langsung terhadap harga di tingkat petani.

Bapanas terkesan mengambil jalan pintas dengan terus mengandalkan impor pangan untuk mengatasi permasalahan pangan di Indonesia. Hal ini pada prinsipnya semakin menjauhkan pemerintah pada prinsip kedaulatan pangan.

Sebelumnya, Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menyampaikan impor beras dilakukan secara terukur dan tidak menjatuhkan harga di tingkat petani.

"Jadi, kami sampaikan bahwa ini importasi yang terukur. Tidak membabi buta untuk menjatuhkan juga," kata Kepala Bapanas Arief saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Senin (3/4).

Sikap DPR

Anggota Komisi IV DPR RI, Suhardi Duka, mengatakan saat ini neraca komoditas beras masih surplus. Menurutnya, alasan impor beras karena Bulog tidak dapat membeli beras di Harga Pembelian Pemerintah (HPP) tidak dapat diterima.

"Setelah hadir Badan Pangan (di) 2022, kebijakan pertamanya adalah impor. Ini sangat mengecewakan sekali. Kok kebijakan pertamanya impor? Sedangkan filosofi pembentukannya lain (yaitu) bagaimana kepentingan petani difasilitasi dengan baik. Yang selama ini (terjadi) antara Kementerian Perdagangan dengan Kementerian Pertanian kan beda paham. Oleh karena itu, hadirlah Badan Pangan Nasional, tapi yang mengecewakan di saat neraca beras kita surplus empat juta ton, Anda melakukan impor," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV dengan Badan Pangan Nasional, Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia dan ID Food di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (3/4).

Kebijakan impor beras ini, menurutnya, juga tidak sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2022 yang menyatakan bahwa impor itu didasarkan dengan neraca pangan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Luar Negeri
Inggris Hadapi Ancaman Rese...
Nasional
RI Butuh Lebih Banyak Wirau...

Anugerah Jurnalistik KWP 2026

9 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Anugerah Jurnalistik KWP 2026

Perwakilan ICRC Temui Aung San Suu Kyi

14 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Perwakilan ICRC Temui Aung ...
Olahraga
Kabar Gembira, Reno Salampe...
Luar Negeri
Tiongkok Waspadai Risiko Ke...
Luar Negeri
Kebakaran Gudang Limbah Anc...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.