Pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia Butuh 'Roadmap'
📅 Sabtu, 01 Apr 2023, 08:16 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: ISTIMEWA
Berbagai program dan target diluncurkan untuk mencapai hal tersebut seperti penurunan stunting, transformasi layanan kesehatan, dan transformasi di sektor pendidikan.
Di sektor pendidikan, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, meluncurkan banyak episode kebijakan dalam payung Merdeka Belajar. Salah satunya adalah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang memberikan keleluasaan bagi mahasiswa belajar di luar kampus dengan pengakuan Satuan Kredit Semester (SKS). Dua tahun MBKM berjalan, sudah 100 ribu mahasiswa yang berasal dari 2.600 perguruan tinggi di 35 provinsi terlibat dalam program tersebut.
Perguruan tinggi memang memegang peranan penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan menjadi bagian langsung dalam pembangunan melalui kegiatan pendidikan, pengabdian, dan penelitian. Untuk itu, melihat proses pengembangan SDM yang terkait perguruan tinggi, wartawan Koran Jakarta, Muhamad Ma'rup, mewawancarai Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Widodo, S.Si.,M.Si.,Ph.D.Med.Sc. Berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana pandangan Anda tentang proses dan progres pengembangan SDM di Indonesia khususnya yang terkait dengan pendidikan tinggi?
Dengan terbentuknya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai endowment fund untuk pendidikan dan riset di Indonesia, sudah luar biasa. Kedua, melalui anggaran kementeriannya juga pendanaan sudah cukup besar untuk membangun SDM Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ada beberapa hal yang mungkin sangat strategis harus disusun pemerintah ke depan. Pertama adalah roadmap atau peta jalan pengembangan SDM berdasarkan jenis kepakaran dan jumlah SDM yang dibutuhkan dalam membangun industri-industri strategis Indonesia berbasis kekayaan Indonesia.
Selain belum adanya roadmap, apa ada tantangan lain dalam pengembangan SDM?
Tantangan ada dua hal penting. Pertama, bagaimana ada roadmap pengembangan SDM yang lebih terintegrasi dengan roadmap pengembangan industri Indonesia. Kedua, pendidikan itu membangun karakter menjadi bagian penting. Pendidikan dini sampai pendidikan menengah akan lebih bagus difokuskan pada membangun karakter masyarakat Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jadi, pendidikan tidak sekadar hanya memenuhi pemenuhan materi ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan mudah sekali diperoleh melalui berbagai media, tidak hanya di sekolah. Jadi, sekolah turut membangun budaya dan cara berpikir yang lebih ke arah pengembangan soft skill atau karakteristik dari manusia Indonesia.
Pada saat di perguruan tinggi, barulah materi esensial mengembangkan academic skill, soft skill, dan keahlian-keahlian yang in lining atau sesuai dengan roadmap pengembangan SDM di Indonesia. Tentunya kalau kita ingin berkelanjutan, didasarkan kepada kekayaan alam kita sebagai modal, kedua eksplorasi kekayaan alam harus berkelanjutan, terutama memperhatikan lingkungan.
Kalau industri didasarkan pada sumber daya alam maka kita akan lebih mudah berkompetisi. Bagaimana kita bisa meletakkan pembangunan industri berbasis sumber daya alam (SDA) dan ketersediaan SDM maka program studi di perguruan tinggi akan in lining dengan kebutuhan SDM untuk menyokong perkembangan industri nasional Indonesia.
Seperti apa implementasi dari roadmap pengembangan SDM ini?
Sebagai contoh, Indonesia kaya dengan wilayah perkebunan sawit, tapi jadi ironi ada kelangkaan minyak goreng. Nah, itu bagaimana kemudian apa sih yang diperlukan untuk perkembangan pengelolaan industri kelapa sawit, SDM sarjana apa saja yang diperlukan, jumlahnya berapa, itu harus jelas. Kedua misalnya nikel, itu tidak boleh ekspor bahan baku. Harus terjaga, tapi siapa yang mengerjakan? SDA kita harus siap, industri siap, pengolahan sudah siap, tapi siapa yang mengerjakan? Itu butuh perhitungan-perhitungan.
Sehingga dari situ, perguruan tinggi harus menyiapkan terkait material sains berapa, teknik fisika, teknik kimia berapa. Itu sangat principal untuk pengembangan industri ke depan. Kalau kita hanya buat industrinya, kalau yang mengerjakannya tidak ada, ya SDM dari luar negeri akhirnya. Kita jadi penonton juga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!