Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

'The Malay Archipelago', Buku yang Mengguncang Dunia Sains

📅 Sabtu, 11 Mar 2023, 16:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Teori evolusi, antara Darwin dan Wallace

Selain itu, Wallace juga terilhami dari kecenderungan perubahan secara gradual terhadap spesies yang ia temui antara kompleks kepulauan satu dengan yang lain. Misalnya, ia menjumpai bagaimana kupu-kupu yang mengalami modifikasi sayap di tiap kepulauan.

Hal ini menurutnya disebabkan oleh tekanan jumlah pemangsa yang berbeda di tiap kompleks kepulauan sehingga mendorong seleksi modifikasi bentuk sayap kupu-kupu. Pemikiran tersebut dapat kita analogikan dengan pengamatan Darwin di Kepulauan Galapagos terhadap paruh burung Finch serta pengamatannya terhadap seleksi buatan burung merpati di London.

Pada Januari 1858 ketika Wallace bermukim di Ternate dan terserang penyakit malaria, ia menulis sebuah esai dan mengirimkannya dalam bentuk surat kepada sahabat penanya yaitu Charles Darwin. Tulisan ini guna memperkuat artikel yang ia tulis sebelumnya, yang terkenal dengan "Sarawak Law". Wallace berharap Darwin akan mengirim tulisan tersebut kepada ilmuwan geografi terkemuka pada saat itu, Charles Lyell untuk diulas.

Namun alangkah terkejutnya Darwin ketika membaca tulisan Wallace yang memiliki ide sama seperti dirinya mengenai proses seleksi alam dan teori evolusi.

Oleh karena itu pada 1 Juli 1858, sebuah presentasi atas nama Darwin dan Wallace yang dimoderatori oleh Charles Lyell digelar di hadapan Linnean Society of London untuk mempresentasikan karya ilmiah keduanya. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai awal mula revolusi ide seleksi alam dan evolusi.

Catatan persatuan dan kearifan masyarakat Nusantara

Selain catatan tentang kondisi biodiversitas dan geografi Kepulauan Nusantara, Wallace juga memberikan catatan penting tentang masyarakat pra-Indonesia di dalam buku The Malay Archipelago. Hal ini yang sering terlewatkan karena buku ini sering dianggap sebagai buku sains klasik saja oleh sebagian besar orang.

Padahal Wallace mencatatkan secara detail perilaku masyarakat, adat, dan kebudayaan yang dijumpainya termasuk variasi bahasa dari 59 suku di Kepulauan Nusantara. Walau Wallace masih menggunakan sudut pandang kolonialis, ia tetap menyadari bahwa suku bangsa yang mendiami Kepulauan Nusantara sangat beraneka ragam dan kearifan lokalnya membuat ia kagum.

Seperti ketika Wallace melakukan perjalanan dengan perahu lokal dari Makasar ke Pulau Aru pada 1856. Wallace menuliskan di dalam salah satu bab, bahwa walau di dalam perahu terdapat sekitar 50 orang dengan beraneka ragam suku dan bahasa namun mereka tetap dapat rukun, tidak saling bertengkar dan dapat bekerja sama.

Sesampainya di Dobo, Pulau Aru, Wallace menyaksikan komunitas campuran antara masyarakat Papua, Maluku, Melayu, Tionghoa, Bugis dan juga Jawa. Masyarakat yang multikultural tersebut telah lama berinteraksi dalam perdagangan di sana. Ia juga menggambarkan pelbagai aktivitas masyarakat mulai dari pasar yang ramai, sabung ayam, hingga aktivitas salat Jumat di sebuah masjid kampung.

Catatan berharga ini menunjukkan cikal bakal masyarakat Indonesia pada abad ke-19, dari Sabang sampai Merauke, suku bangsa yang berbeda di Kepulauan Nusantara telah berbaur. Sebuah komunitas imajiner - walaupun belum berbentuk sebuah negara - telah mempraktikkan hakikat bhinneka tunggal ika.

Di akhir bukunya, Wallace membuat kesimpulan dengan membandingkan kearifan masyarakat asli di Kepulauan Nusantara dengan bangsa Eropa. Menurut dia, di antara penduduk asli yang tertinggal peradabannya dibanding Eropa, ia dapat menemukan pendekatan terhadap kondisi sosial yang sempurna.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Posko Siaga PLN Istana Waki...
Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.