ASEM Day 2023 Dorong 'People-to-People Exchange' Antar Asia dan Eropa untuk Sikapi Meningkatnya Tekanan Geopolitik Global
📅 Kamis, 09 Mar 2023, 15:51 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Dok Kementerian Luar Negeri Indonesia
BANDUNG - Indonesia suarakan lebih banyak lagi people-to-people exchange dalam kerangka Asia Europe Meeting (ASEM) sikapi meningkatnya tekanan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa, Nidya Kartikasari, dalam seminar ASEM Day 2023 bertema Reigniting ASEM: the Future of Asia and Europe from Asia's Perspective, yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri bersama dengan Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) dan Asia Europe Foundation (ASEF) Rabu (8/3).
Pada seminar itu, Teuku Rezasyah, pengamat isu-isu internasional, menyoroti konflik Russia dan Ukraina serta rivalitas Amerika Serikat (AS) dan RRT telah mengubah dinamika hubungan negara-negara Asia dengan Barat, termasuk Eropa.
Menurut dia, organisasi antar pemerintah seperti PBB kembali terbukti tidak dapat menghentikan konflik, justru hubungan ekonomi yang ternyata bisa menjadi pereda konflik.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Purwadi Hermawan, dosen di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan, yang melihat pentingnya ASEM penting bagi Eropa untuk membentuk norma dan menjadi pintu masuk bagi perluasan pasar ke kawasan Asia.
Tekanan Geopolitik
Sebaiknya Anda baca juga:
Adanya tekanan geopolitik global kembali digarisbawahi Nidya. Menurut dia, rembetan ketegangan konflik Russia-Ukraina sangat mempengaruhi kerja sama di forum antarpemerintah, termasuk ASEM.
Menyikapi hal ini, perlu ada terobosan di track II diplomacy yang melibatkan publik secara luas, agar konektivitas antar kawasan tidak terhenti.
Di sinilah pentingnya peran Asia Europe Foundation (ASEF), sebagai organisasi di bawah naungan ASEM yang diberi mandat untuk mendorong people-to-people exchange di kawasan Asia dan Eropa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Eksekutif ASEF, Dubes Toru Morikawa menjelaskan bahwa ASEF memiliki 700 proyek/kegiatan di bidang budaya, pendidikan, pemerintahan, ekonomi, media, kesehatan, dan pembangunan berkelanjutan, berkolaborasi dengan lebih dari 800 organisasi mitra.
Diantara kegiatan unggulannya adalah Festival Budaya Asia Eropa dan ASEF Young Leaders Summit, sebuah forum antar kawasan yang memiliki tujuan mencetak pemimpin muda visioner.
"Kegiatan tersebut terbuka dan dapat dimanfaatkan oleh publik secara luas, termasuk oleh mahasiswa, akademisi, dan para pemuda," ujar Nidya.
Sementara itu Lurong Chen, peneliti dari ERIA melihat bahwa sebenarnya kedua kawasan dapat mendorong konektivitas yang lebih besar melalui kerja sama digital. Namun, di banyak negara berkembang, digitalisasi masih terbentur modal dan kapasitas sumber daya manusia, sehingga riskan terhadap potensi risiko seperti kebocoran dan penyalahgunaan data.
ASEM Day yang diperingati setiap Maret, merupakan upaya negara anggota untuk meningkatkan visibilitas ASEM di masyarakat. Di antara organisasi regional lain, keberadaan ASEM belum banyak diketahui publik, padahal, ASEM merupakan satu satunya organisasi di tingkat kepala negara (summit) yang menghubungkan kawasan Asia dan Eropa.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan seminar ASEM Day selalu mendapat sambutan antusias dari publik, terutama mahasiswa, akademisi, dan pengamat hubungan internasional. Lebih 200 orang hadir dalam acara yang dilakukan secara daring dan luring.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!