Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

PBB Memperingatkan 52 Negara Berisiko Gagal Bayar Utang

📅 Senin, 06 Mar 2023, 00:00 WIB | Oleh:
PBB Memperingatkan 52 Negara Berisiko Gagal Bayar Utang Doc: ISTIMEWA
Ket. Achim Steiner Kepala Program Pembangunan PBB

DOHA - Kepala Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Achim Steiner, pada Sabtu (4/3), memperingatkan perlu langkah-langkah mendesak untuk membantu 52 negara menghadapi masalah pembayaran utang yang membuat beberapa negara berisiko gagal bayar.

Dikutip dari The Straits Times, Steiner mengatakan kepada AFP bahwa 25 dari 52 negara menghabiskan lebih dari seperlima pendapatan untuk membayar utang luar negeri.

"Situasi saat ini bagi negara-negara berkembang terkait utang nasional memang sangat, sangat serius," kata Steiner dalam sebuah wawancara di sela-sela KTT Negara-Negara Terbelakang (LDC) di Doha.

"52 negara berada dalam kesulitan utang atau selangkah lagi dari tekanan utang dan potensi gagal bayar," katanya.

Steiner tidak menyebutkan nama negara yang terlibat, tetapi UNDP pekan lalu merilis laporan yang menyerukan penghapusan 30 persen utang luar negeri untuk 52 negara pada nilai 2021.

Ke-52 negara itu termasuk Argentina, Lebanon dan Ukraina bersama 23 negara dari sub-Sahara Afrika, 10 dari Amerika Latin dan Karibia, dan delapan dari Asia Timur dan Pasifik.

"Pasar keuangan tidak memberikan perhatian yang cukup dari 52 yang hanya 3 persen dari utang luar negeri global, tetapi seperenam dari populasi dunia," kata Steiner.

Dia menambahkan dua puluh lima negara membelanjakan seperlima dari pendapatan pemerintah untuk pembayaran utang "tidak berkelanjutan".

"Oleh karena itu, kami telah menyerukan dengan sangat jelas cara-cara mendesak untuk menyuntikkan likuiditas sambil merestrukturisasi dan menjadwal ulang utang, karena jika tidak, kita dapat melihat negara demi negara jatuh ke wilayah kesulitan utang itu," tegasnya.

Pada Sabtu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam negara-negara kaya dunia dan raksasa energi karena membebaniLeast Developing Countries (LDC) dengan suku bunga "predator".

Berlipat Ganda

Utang negara-negara miskin telah berlipat ganda selama dekade terakhir karena pandemi Covid-19, harga bahan pangan dan bahan bakar yang tinggi, serta krisis keuangan. Beberapa telah gagal bayar selama dua tahun terakhir.

Steiner mengatakan, negara-negara Afrika seperti Nigeria, Mali, dan Burkina Faso telah kehilangan kemajuan pembangunan hingga 20 tahun di tengah meningkatnya kekerasan politik dan kegagalan pemerintah untuk menyediakan layanan dasar, keamanan, kesehatan dan pendidikan.

Dia mengatakan total utang sulit ditetapkan karena lebih dari 60 persen merupakan utang kepada kreditur swasta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Respons Pemprov Atas Aduan ...
Nasional
Pemerintah Perlu Perkuat Pe...
Megapolitan
Urban Farming Hapus Citra B...
Luar Negeri
Trump Yakin Teheran Izinkan...
Luar Negeri
Jepang Layangkan Protes ata...
Nasional
Pemerintah Perlu Percepat E...
Rona
Spider-Man: Brand New Day 2...
Luar Negeri
Setelah AGI, Dunia Harus Si...
Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.