Kemampuan Pohon dan Tanah Menyerap Karbon Diperkirakan Berkurang
📅 Jumat, 03 Mar 2023, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: ISTIMEWA
BARCELONA - Menurut penelitian yang diterbitkan minggu lalu di Nature, beberapa tahun terakhir telah membawa kekhawatiran bagi para ilmuwan bahwa kemampuan tanah menyerap karbon menjadi tidak stabil. Penyerapan karbon di lautan dan Amazon mungkin sudah melambat.
Dikutip dari The Straits Times, selama ini semua karbon dioksida (CO2) yang terakumulasi di atmosfer dan memanaskan planet telah memberi banyak kehidupan bagi makhluk pengonsumsi karbon di tanah.
Ekosistem daratan telah mengambil lebih banyak CO2 dari atmosfer dalam beberapa dekade terakhir dibandingkan sebelumnya, sebuah "bonus" yang pada dasarnya membersihkan sejumlah polusi bagi manusia.
Para ilmuwan berharap itu bertahan lama, tetapi mereka semakin khawatir hal itu tidak akan terjadi. Hutan dan ekosistem lain yang tertekan mungkin mengirimkan peringatan dini kepada kita bahwa itu semua telah berubah di bawah tekanan.
Sekitar 30 persen emisi karbon berakhir di tanaman, pohon, dan tanah, dan 25 persen lainnya di lautan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Citra satelit dan pengukuran tanah mengungkapkan bonus CO2 kurang stabil, terutama di tempat-tempat dengan tanah kering dan nitrogen terbatas, yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh.
Tempat-tempat yang menjadi perhatian termasuk Afrika Timur, wilayah Mediterania, pantai Barat Amerika Utara dan Tengah, India dan Asia Tenggara,
Tim peneliti mengukur dua elemen dari sistem ini yatu perubahan serapan karbon dari tahun ke tahun dan seberapa besar kemungkinan suatu sistem untuk kembali ke kondisi sebelumnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika ada banyak kejutan dan perubahan iklim telah menyebabkannya, dan ketika area terdampak tidak kembali ke keadaan semula, kemungkinan besar perubahan sistemik sedang berlangsung.
Akibatnya, tanah menyerap lebih sedikit karbon atmosfer kita.
"Setiap osilasi dalam sistem diperkuat sepanjang waktu, karena ia 'mengingat' dengan lebih baik apa yang terjadi sebelumnya," kata Marcos Fernandez-Martinez, peneliti di Autonomous University of Barcelona dan penulis utama studi Nature.
"Jadi riak-riak ini menjadi semakin besar dan semakin besar, dan kemudian pada akhirnya menyebabkan perubahan pada keadaan sistem itu," ujarnya.
Titik Kritis
Para peneliti untuk pertama kalinya menerapkan metodologi penyerap karbon darat yang digunakan sebelumnya untuk mempelajari apa yang disebut titik kritis dalam sistem bumi utama yang menjaga planet tetap berjalan seperti biasa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!