Menilik Peran Media Rusia Melaporkan dan Membenarkan Perang di Ukraina
📅 Jumat, 24 Feb 2023, 12:42 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Biro Pers Kepresidenan Ukraina
James Rodgers, City, University of London
Perang media dalam pemberitaan invasi Rusia ke Ukraina memperlihatkan betapa pentingnya peran jurnalisme konflik di abad ke-21. Ini juga menunjukkan kekuatan rezim otoriter dalam membatasi peliputan - bahkan di era smartphone dan media sosial.
Demi menggaungkan aturan sensor baru yang keras, pemerintah Rusia memulai perang media dalam beberapa hari setelah invasi. Di bawah Undang-Undang tentang berita palsu (law on fake news) yang baru, jurnalis berisiko dipenjara jika mereka menolak mematuhi batasan resmi dari pemerintah untuk menyebut bahwa invasi tersebut adalah "operasi militer khusus", dan sama sekali bukan perang.
Sebagaimana yang dikatakan Direktur Umum BBC, Tim Davie, pada saat itu, bahwa UU tersebut "akan mengkriminalkan proses jurnalisme independen". BBC sempat menghentikan peliputan di Rusia untuk sementara waktu, kemungkinan karena tengah berusaha untuk menetapkan tingkat risiko yang akan dihadapi wartawannya.
BBC akhirnya melanjutkan peliputannya di Rusia. Steve Rosenberg dan rekan-rekannya menyajikan berita-berita untuk audiens global, seperti tentang Denis Skopin, seorang dosen universitas di St Petersburg yang dipecat karena memprotes perang. Andrew Roth dari The Guardian juga memberitakan aktivisme antiperang, termasuk tentang kelompok masyarakat yang diam-diam "membangkang" dan berduka atas jatuhnya korban di Ukraina akibat mesin perang Kremlin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, banyak juga wartawan maupun kantor berita lainnya yang tutup lalu pergi dari Rusia. Ini terjadi karena kerap kali editornya merasa tinggal di sana sudah tidak aman lagi. Sampai sekarang pun mereka belum kembali ke Rusia.
Larangan Bolshevik Tahun 1920-an
Larangan terhadap jurnalisme independen bisa juga menjadi semacam pujian: bukti akan kekuatan wartawan untuk menantang pembenaran Kremlin atas perang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan tidak dapat diaksesnya banyak situs berita internasional dan platform media sosial sejak awal perang, pembatasan peliputan independen di Rusia ini lebih ketat dibandingkan sebelum era reformasi dan keterbukaan informasi - yang menjadi ciri khas berakhirnya periode Soviet.
Faktanya, situasi saat ini mirip dengan seabad yang lalu, ketika pemerintahan Bolshevik (pemerintahan Rusia di bawah rezim Vladimir Lenin) melarang koresponden asing untuk bertugas di Rusia. Alasannya, pemerintah dan surat kabar mereka telah mendukung pihak yang salah, alias kelompok "Putih" yang dianggap kontrarevolusi, dalam perang sipil.
Akhirnya, seperti yang dilakukan oleh beberapa koresponden asing saat ini, peristiwa di Rusia dilaporkan dari Riga, ibu kota Latvia, negara tetangganya.
Dengan ancaman hukuman penjara bagi jurnalis, pendekatan Rusia terhadap perang media terlihat sangat kasar. Namun, dalam beberapa hal, strategi tersebut cenderung efektif.
Zelensky: Aktor Media yang Sempurna
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menunjukkan keahlian yang luar biasa. Dia mungkin terinspirasi dari karier aktingnya dalam menggunakan media modern dan sejenisnya, sebelum menjadi Presiden.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!