Panen Belum Merata, Impor Tak Tepat Dilakukan
📅 Selasa, 21 Feb 2023, 08:22 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/PRASETIA FAUZANI
JAKARTA - Pemerintah jangan buru-buru membuat keputusan impor beras. Sebab, kenaikan harga beras saat ini bukan karena masalah produksi, tetapi karena panen yang belum merata.
Saat ini, pasokan di pasaran belum berlimpah. Panen raya baru merata pada Maret sampai April mendatang sehingga harga beras akan berangsur turun.
Selain menolak impor, pemerintah diminta mempercepat merevisi HPP (harga pembelian pemerintah) agar Bulog bisa bersaing dengan pembeli swasta. Jika tak ada perubahan, beras petani tak akan dijual ke Bulog sehingga mengancam realisasi target serapan lembaga tersebut.
Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, mengatakan harga gabah masih relatif tinggi walaupun sudah ada yang mulai panen. Hal ini karena panen yang belum terjadi di semua wilayah sentra produksi.
"Harga gabah masih di atas 6.000-6.500 rupiah per kilogram (kg) walaupun harga ada kecenderungan turun," ungkap Said, di Jakarta, Senin (20/2). Hal itu merespons pernyataan Presiden yang membuka opsi impor beras.
Sebaiknya Anda baca juga:
Said menerangkan, bulan lalu gabah kering giling (GKH) bisa mencapai 7.000 ruliah, sementara harga Gabah kering panen (GKP) di wilayah yang sudah panen di Indramayu selatan dan sebagian sumedang harganya sekitar 5.000-5.400 per kg GKP. Panen raya diperkirakan akan terjadi selama Maret-April.
Adapun harga beras di penggilingan di Indramayu sudah turun menjadi 11.000-12.200 per kg. Di Boyolali harganya sekitar 12.200 per kg untuk beras mentik wangi.
"Dengan panen yang masih sedikit harga tentu belum banyak terpengaruh walaupun sudah ada tren ke arah sana," bebernya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, melihat situasi yang ada maka harusnya tidak terlalu khawatir sebab sesaat lagi panen raya, harga beras ada tren turun dan diyakini akan terus turun sampai panen raya. Sejauh ini tidak ada laporan yang mengkhawatirkan terkait produksi padi di musim ini. Dengan melihat situasi ini harusnya tidak perlu khawatir.
Dia menjelaskan hampir setiap musim kemampuan Bulog menyerap hasil produksi dalam negeri tidak lebih dari sepuluh persen. Melihat persoalan tersebut, tentu tidak tepat solusinya dengan impor, karena untuk mengisi gudang bulog dilakukan dengan mengimpor beras dari negara lain.
Ketidakmampuan Bulog menyerap beras karena kalah bersaing dengan pedagang sebab Bulog dibatasi oleh harga pembelian pemerintah (HPP) yang tidak mengikuti perkembangan atau tren pasar.
Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional (Bapanas) atau National Food Agency (NFA), Nyoto Suwignyo, mengatakan saat ini pihaknya sedang meninjau dan menghitung ulang penyesuaian HPP untuk gabah dan beras.
Hal itu dilakukan guna menjaga stabilitas pasokan dan harga beras baik di tingkat petani, penggilingan, dan pedagang, serta memastikan tercapainya target penyerapan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) oleh Perum Bulog pada 2023, yaitu sebesar 2,4 juta ton.
"Jangan sampai di masa panen raya yang sebentar lagi terjadi, nantinya harga gabah di petani anjlok sehingga merugikan petani," ungkap Nyoto.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!