Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perkuat Ekonomi Domestik agar Impor Bisa Ditekan Turun

📅 Kamis, 16 Feb 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Perkuat Ekonomi Domestik agar Impor Bisa Ditekan Turun Doc: Sumber: BPS - KORAN JAKARTA/ONES

» Profil impor Indonesia lebih dari 90 persen dari bahan baku dan barang modal.

» Tanpa pertanian dan kemandirian pangan, akan sulit menghadapi berbagai potensi krisis ke depan.

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Januari 2023 masih surplus 3,87 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau lebih tinggi dibanding surplus pada Januari 2022 sebesar 0,93 miliar dollar AS.

Deputi Bidang Statistik Produksi, M. Habibullah, dalam konferensi pers, Rabu (15/2), mengatakan dengan capaian tersebut maka NPI telah surplus sejak Mei 2020 atau selama 33 bulan berturut-turut.

Surplus neraca perdagangan pada Januari 2023 itu disebabkan nilai ekspor yang lebih tinggi daripada nilai impor. Nilai ekspor Indonesia tercatat 22,31 miliar dollar AS, sedangkan impor 18,44 miliar dollar AS.

Surplus, jelas Habibullah, juga ditopang neraca komoditas nonmigas yang mengalami surplus 5,29 miliar dollar AS, terutama komoditas bahan bakar mineral, lemak, dan minyak hewan/nabati, serta besi dan baja.

Sementara neraca komoditas migas mengalami defisit 1,42 miliar dollar AS dengan penyumbang utamanya adalah minyak mentah dan hasil minyak. Adapun tiga negara yang menyumbang surplus neraca perdagangan tersebut adalah AS, Filipina, dan India.

Lebih lanjut, dia menjelaskan untuk impor, penurunan impor golongan barang nonmigas terbesar Januari 2023 dibandingkan Desember 2022 adalah mesin/ peralatan mekanis dan bagiannya senilai 434,0 juta dollar AS atau 14,95 persen. Sedangkan peningkatan terbesar adalah mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya 215,6 juta dollar AS atau 10,18 persen.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari 2023 adalah Tiongkok sebesar 5,32 miliar dollar AS atau 34,24 persen, Jepang 1,36 miliar dollar AS atau s8,76 persen, dan Thailand 0,90 miliar dollar AS atau 5,76 persen.

Menanggapi kinerja perdagangan itu, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, mengatakan kendati surplus, namun tetap perlu mewaspadai penurunan impor mesin karena bisa jadi ada penurunan produksi manufaktur.

"Kalau impor turun sangat baik, tapi semestinya penurunan terjadi karena penguatan ekonomi domestik sebagai kunci ke depan," kata Maruf.

Dalam kesempatan terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky, mengatakan penurunan impor barang modal dipicu oleh beberapa faktor, pertama sisi eksternal. "Faktor ketidakpastian global masih cukup tinggi karena belum jelasnya langkah pengetatan moneter dari the Fed. Hal ini membuat investor dalam dan luar negeri masih mempertimbangkan apakah mereka akan melakukan ekspansi saat ini atau tidak," kata Riefky.

Kondisi tersebut mempengaruhi tendensi dari ekspansi tingkat produksi domestik dan mempengaruhi impor untuk barang modal dan bahan baku karena banyak pelaku bisnis yang menahan ekspansi. "Selain eksternal, faktor domestik lebih karena perilaku musiman. Biasanya di awal tahun faktor ekspansi pelaku bisnis dalam negeri belum terlalu agresif," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.