Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Taman Nasional Tanjung Puting, Pengalaman Petualangan Ala Amazon di Selatan Kalimantan

📅 Sabtu, 04 Feb 2023, 06:15 WIB | Oleh:
Taman Nasional Tanjung Puting, Pengalaman Petualangan Ala Amazon di Selatan Kalimantan Doc: Istimewa

Taman Nasional Tanjung Puting menjadi magnet bagi mereka yang ingin menikmati pengalaman susur sungai membelah hutan dari atas perahu sekaligus sebagai hotelnya. Melihat orang utan secara langsung di alam liar adalah daya tarik lainnya.

Tempat terbaik di Indonesia untuk menikmati hutan dengan segala isinya saat ini adalah Kalimantan. Pulau terbesar nomor tiga di dunia dan terbesar di benua Asia, menawarkan hutan lahan basah seperti halnya hutan hujan di Amazon, Brasil.

Salah satu destinasi yang bisa dikunjungi untuk menikmati Pulau Borneo adalah Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Secara geografis taman nasional ini berada di wilayah Kecamatan Kumai di Kotawaringin Barat dan Kecamatan Hanau, serta Kecamatan Seruyan Hilir di Kabupaten Seruyan di Kalimantan Tengah.

TNTP memiliki luas 415 ribu hektare. Tempat ini menjadi destinasi ekowisata (ecotourism), terutama bagi turis mancanegara. Balai Taman Nasional Tanjung Puting mencatat jumlah kunjungan wisatawan dari 1 Januari hingga 29 Agustus 2022 mencapai 15.914 orang, sebanyak 11.149 di antaranya wisatawan mancanegara dan 4.765 wisatawan domestik.

"Sebelum Covid-19 masuk ke Indonesia, tahun 2019, kunjungan wisatawan mencapai 27.000 lebih pengunjung, namun pada 2020 yakni 3.482 pengunjung, dan 2021, cuma 1.281 wisatawan yang berkunjung ke TNTP," ungkap Humas dan Penyaji Data Balai Taman Nasional Tanjung Puting, Efan Eka Nanda, kepada kantor beritaAntarabeberapa waktu lalu.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TNTP berasal dari berbagai negara di Eropa dan Amerika, seperti yang dominan berasal dari Amerika Serikat (AS), Belanda, Inggris, Italia, Kanada, New Zealand, Polandia, dan Spanyol.

Mereka sebagian besar mengunjungi tiga lokasi favorit yang ada seperti Tanjung Harapan, Camp Leakey, dan Pondok Tanggui, khusus untuk melihat orang utan.

TNTP dengan hutan rawa air tawar dan hutan bakaunya juga merupakan wilayah yang ditetapkan sebagai Situs Ramsar (Ramsar Site). Situs ini ditujukan untuk kepentingan internasional di bawah Konvensi Ramsar, juga dikenal sebagai "Konvensi tentang Lahan Basah," sebuah perjanjian lingkungan antarpemerintah yang didirikan pada 2 Februari 1971 di Ramsar, Iran, oleh Unesco yang berlaku sejak 21 Desember 1975.

Sebanyak 171 negara turut berpartisipasi dalam perjanjian lingkungan antarpemerintah. Situs Ramsar menyediakan tindakan nasional dan kerja sama internasional mengenai konservasi lahan basah, dan penggunaan sumber daya mereka secara berkelanjutan secara bijaksana. Ramsar mengidentifikasi lahan basah yang penting secara internasional, terutama yang menyediakan habitat unggas air. Pada Agustus 2022, terdapat 2.471 Situs Ramsar di seluruh dunia, dengan total luas 255.792.244 hektare.

TNTP sebenarnya sudah ada sejak zaman Belanda. Pada 18 Agustus 1937, kawasan itu ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa Sampit, melaluibesluitGubernur Jenderal No. 39 tanggal 18 Agustus 1937 dengan luas 205 ribu hektare. Pada era '70-an, wilayahnya diperluas dengan nama Suaka Margasatwa Tanjung Puting sebelum berubah nama menjadi TNTP pada 25 Oktober 1996.

Taman nasional tersebut berada pada ketinggian 0-100 mdpl. Ekosistemnya terdiri dari hutan hujan tropis, hutan tanah kering, dataran rendah hutan rawa air tawar, hutan pantai, hutan mangrove dan juga hutan sekunder. Dengan demikian pengunjung akan diajak berbagai macam ekosistem sekaligus.

TNTP bukan hanya dihuni oleh orang utan, namun juga lutung merah, bekantan, kancil, beruang madu, dan juga kucing hutan. Selain itu juga terdapat 38 jenis mamalia serta 200 jenis burung yang mendiami kawasan satu ini.

Namun yang jelas, tempat satu ini telah ditetapkan sebagai salah satu konservasi orang utan terbesar. Terdapat sekitar 30 ribu hingga 40 ribu orang utan di wilayah ini baik yang berada di dalam TNTP maupun di luar.

Selain itu, ada pula sejumlah flora endemik dan hewan liar yang bisa ditemukan di tempat satu ini yang umumnya berupa tumbuhan hutan dataran rendah seperti jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), meranti (Shorea sp), keruing (Dipterocarpus sp), dan rotan beberapa contoh kecil diantaranya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Seorang Tentara AS yang Ter...
Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
Luar Negeri
Resmi Masuk DK PBB, Kirgist...
Ekonomi
Kuartal I, Hilirisasi Nikel...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.