Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Sejarah 1 Februari: Letusan Gunung Berapi Mayon Terparah, 1.200 Jiwa Melayang

📅 Rabu, 01 Feb 2023, 15:18 WIB | Oleh:
Sejarah 1 Februari: Letusan Gunung Berapi Mayon Terparah, 1.200 Jiwa Melayang Doc: C.G. Newhall/U.S. Geological Survey
Ket. Salah satu letusan Gunung Berapi Mayon.

Tepat 209 tahun yang lalu hari ini, warga Filipina dikejutkan dengan letusan Gunung Berapi Mayon yang dikenal paling merusak sepanjang sejarah. Setidaknya 1.200 orang tewas akibat letusan yang terjadi pada 1 Februari 1814.

Gunung Berapi Mayon sendiri merupakan adalah tempat wisata utama tidak hanya bagi warga yang tinggal di Provinsi Albay, tapi juga bagi seluruh penduduk Filipina. Banyak warga Filipina yang bahkan menilai bahwa bentuk Gunung Berapi Mayon jauh lebih indah dari Gunung Fuji di Jepang.

Namun, letusan Gunung Berapi Mayon pada 1 Februari 1814 seakan menutupi keindahannya. Sekitar jam 8 pagi hari itu, gunung berapi yang terkenal indah itu tiba-tiba menyemburkan bebatuan tebal, pasir dan abu. Membuat warga kota-kota di bawahnya berhamburan mencari perlindungan ke dataran yang lebih tinggi.

Berdasarkan reportase Rappler, letusan Gunung Berapi Mayon bertipe Plinian atau Perret yang merupakan jenis letusan terbesar dan paling dahsyat.

Melansir laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, ciri yang menonjol dari tipe erupsi ini adalah erupsi yang menghancurkan sebagian puncak gunungapi, dengan awan abu tebal membumbung tinggi berbentuk cendawan seperti letusan bom atom.

Letusan bertipe Plinian dapat menghasilkan abu, bom lava, batuan vulkanik bermil-mil jauhnya dari gunung berapi.

Direktur Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina, Renato Solidum bahkan menyebut letusan 1814 sebagai yang paling merusak dalam hal korban dan jarak yang dicapai bahaya vulkanik dari kawah.

Meski letusan Gunung Berapi Mayon hanya berlangsung selama satu hari, Solidum menjelaskan Mayon mengeluarkan material dalam jumlah besar. Setelah letusan, hujan bercampur dengan lahar penghasil abu vulkanik mengalir ke sungai dan pemukiman penduduk yang jauh sekalipun.

Tak hanya itu, ada juga aliran piroklastik yang menuruni lereng Mayon dan mengubur banyak area di Albay selama letusan tersebut.

Sebagai informasi, aliran piroklastik adalah material klastik yang tersusun dari fragmen batuan yang dihasilkan dan dikeluarkan oleh erupsi gunung api yang bersifat eksplosif, seperti batuan panas dan kering serta gas panas.

Sekitar jam 10, hujan batu besar akibat letusan Gunung Berapi Mayon berganti dengan hujan pasir. Seketika, sejumlah jalan di kaki gunung itu dipenuhi dengan mayat dan mereka yang terluka parah ketika mencoba menyelamatkan diri.

Di gereja Budiao yang berlokasi sekitar 10 kilometer dari Gunung Berapi Mayon, 200 orang ditemukan meninggal dunia.

Tak hanya di Albay, kehancuran juga terjadi di Provinsi Camarines dengan lima kota hancur total. Sekitar 12.000 orang tewas dalam peristiwa ledakan dahsyat itu.

Gunung berapi yang terkenal indah itu seakan hilang tertutup bebatuan dan pasir yang menambah kesan kengeriannya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Pemprov Jawa Timur Catat Po...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.