Dunia Semakin Tertinggal dalam Upaya Mengakhiri Kelaparan dan Kemiskinan
📅 Jumat, 20 Jan 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA
» Krisis pangan yang sedang berlangsung kemungkinan akan berlanjut pada 2023.
» Banyak petani kecil menderita karena krisis biaya hidup, terbatasnya akses pangan, dan pupuk.
DAVOS - Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (International Fund Agriculture Development/IFAD) dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, pada Rabu (18/1), memperingatkan bahwa krisis pangan yang sedang berlangsung kemungkinan akan berlanjut pada 2023.
Ketua IFAD, Alvaro Lario, kepada Xinhua seperti diberitakan Antara, mengatakan pihaknya memperkirakan pada 2023 ini situasi tidak lebih baik dari tahun 2022.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Beberapa kekurangan dalam rantai pasokan global yang kami lihat pada tahun 2022 akan berdampak pada tahun 2023," kata Lario. "Kami bekerja dengan banyak mitra kami untuk melihat bagaimana dengan situasi stok pupuk. Namun, untuk 2023 tidak akan banyak kabar baik mengingat musim tanamnya dari tahun 2022," katanya.
Lario mengatakan bahwa tindakan yang ditempuh untuk mengatasi krisis pangan belum cukup untuk mengatasi masalah dan masih butuh investasi yang lebih besar.
"Kami melihat banyak petani kecil menderita karena krisis biaya hidup, terbatasnya akses pangan dan pupuk. Sayangnya, musim tanam telah berlalu," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Namun, ada beberapa inisiatif yang sedang berlangsung tentang bagaimana mengatasi kekurangan sistem pangan. Beberapa di antaranya terkait dengan perpajakan, subsidi, distribusi, dan produksi. Kami sedang mencari cara untuk meningkatkan secara besar-besaran investasi yang masuk ke sistem pangan," kata Lario.
IFAD mengatakan sebanyak tiga perempat orang termiskin di dunia tinggal di daerah perdesaan di negara berkembang. Sebagian besar dari mereka bergantung pada pertanian untuk mata pencaharian mereka.
Perubahan iklim, pertumbuhan populasi global, dan harga makanan dan energi yang tidak stabil berpotensi mendorong jutaan orang yang lebih rentan ke dalam kemiskinan dan kelaparan ekstrem pada 2030.
Laporan "State of Food Security and Nutrition" yang diterbitkan oleh lima badan PBB, termasuk IFAD, Juli lalu, dunia semakin tertinggal dalam upaya mengakhiri kelaparan dan kemiskinan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.
Ini menunjukkan bahwa jumlah orang yang terkena kelaparan secara global naik menjadi 828 juta orang pada tahun 2021, meningkat sekitar 150 juta orang sejak merebaknya pandemi Covid-19.
Energi dan Pupuk
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!