Dunia Tidak Punya Waktu Panjang Selesaikan Gangguan Pasokan Pangan
📅 Rabu, 29 Jun 2022, 00:04 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Sumber: Global Report on Food Crises 2022/kj/ones/
» Jika dunia tidak bersatu selesaikan rantai pasok pangan, ratusan juta hingga miliaran penduduk negara berkembang terancam lapar.
» Satgas pangan selalu ketinggalan dan kurang mampu memprediksi dan mengantisipasi gangguan rantai pasok.
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat berbicara pada sesi kedua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara industri maju G7 di Elmau, Jerman, Senin (27/6), mendesak negara-negara kelompok G7 dan G20 melakukan upaya bersama dalam mengatasi krisis pangan.
Desakan itu disampaikan Presiden Jokowi karena dunia tidak memiliki waktu yang panjang untuk menyelesaikan gangguan rantai pasok pangan akibat kelangkaan dan kenaikan harga komoditas pangan serta pupuk.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam berbagai pertemuan bilateral, Kepala Negara menyuarakan kerisauan negara-negara berkembang yang paling terdampak krisis pangan akibat perang di Ukraina.
"Jika dunia tidak bersatu untuk menyelesaikan masalah tersebut, yang paling merasakan dampaknya adalah ratusan juta atau bahkan miliaran penduduk negara berkembang," kata Presiden seperti dikutip Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi.
Jokowi dalam kesempatan itu mengingatkan bahwa ratusan juta rakyat di negara berkembang terancam kelaparan dan jatuh ke jurang kemiskinan akibat krisis pangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Presiden, kata Retno, mengutip data dari UN World Food Programme, di mana tercatat sebanyak 323 juta orang pada 2022 menghadapi kerawanan pangan akut. Padahal, pangan merupakan permasalahan hak asasi manusia yang paling mendasar.
Kepala Negara juga menekankan bahwa perempuan dan keluarga miskin menjadi pihak yang paling terkena dampaknya akibat kekurangan pangan.
Presiden pun meminta dukungan dari G7 untuk memfasilitasi ekspor gandum dari Ukraina agar segera berjalan, sehingga rantai pasok pangan akibat dampak perang kembali normal.
Jokowi juga memandang penting mengomunikasikan kepada dunia bahwa komoditas pangan dan pupuk dari Russia tidak terkena sanksi. Dengan komunikasi yang intensif diharapkan bisa menepis keraguan berkepanjangan dari publik internasional.
"Komunikasi yang intensif juga perlu dilakukan kepada pihak-pihak yang terkait, seperti bank, asuransi, perkapalan, dan lain-lain," kata Presiden.
Sementara itu, Kelompok Tujuh (G7) negara demokrasi kaya akan berkomitmen hingga 5 miliar dollar AS untuk meningkatkan ketahanan pangan global, kata seorang pejabat senior AS, ketika kelompok itu menanggapi kekhawatiran di negara-negara berkembang tentang ancaman kelaparan yang dipicu oleh perang di Ukraina.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!