Dunia Akan Hadapi Krisis Pangan Parah dan Kelaparan Akut
📅 Senin, 13 Jun 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiSementara itu, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), dalam silaturahmi dengan relawan di Ancol, akhir pekan lalu, juga mengingatkan masyarakat, termasuk relawan terkait kondisi rantai pasok pangan dunia yang kini tercatat sudah 22 negara menghentikan ekspor komoditas pangan.
"Hati-hati yang namanya urusan pangan, produksi pangan. Sekarang negara-negara dulu, bulan Januari baru tiga negara yang stop ekspor bahan pangannya, sekarang sudah 22 negara tidak ekspor bahan pangannya," kata Presiden.
Puluhan negara tersebut, kata Jokowi, menghentikan ekspor komoditas pangannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Salah satu negara yakni India yang menangguhkan ekspor gandum untuk melindungi kebutuhan dalam negeri dan menekan inflasi pangan.
Langkah larangan ekspor ini diambil saat dunia sedang mengalami kelangkaan bahan pangan seperti gandum akibat perang di Ukraina.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kepala Negara pun mewanti-wanti posisi Indonesia yang masih harus mengimpor gandum serta sejumlah komoditas lainnya, seperti jagung dan kedelai. Namun untuk komoditas beras, sebagai bahan pangan utama, Presiden mengatakan Indonesia patut bersyukur karena sudah tiga tahun terakhir tidak lagi mengimpor beras.
"Hati-hati yang urusan beras, biasanya kita impor dua juta ton, sudah tiga tahun ini kita tidak impor beras sama sekali. Ini patut kita syukuri, berkat tadi bendungan yang sudah kita bangun," kata Presiden. Sistem irigasi untuk pangan saat ini didukung pembangunan 29 bendungan yang sudah terealisasi dari target 65 bendungan.
Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, berharap pemerintah agar berhati-hati dengan kebergantungan pangan dari korporasi pascaliberalisasi ekonomi yang membuat Indonesia rentan krisis pangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Peneliti Departemen Ekonomi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Adinova Fauri, mengatakan pemerintah harus memacu produksi pangan domestik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!