Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengenal Lebih Dekat Seputar Fenomena Pembohong Patologis

📅 Rabu, 06 Apr 2022, 15:11 WIB | Oleh:
Mengenal Lebih Dekat Seputar Fenomena Pembohong Patologis Doc: Istimewa
Ket. Dosen Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Nido Dipo Wardana

SURABAYA - Dalam kehidupan sehari-hari, banyak ditemui berbagai macam orang dengan karakter yang berbeda satu sama lain. Adakalanya, seseorang melakukan kebohongan lebih sering dari orang kebanyakan serta tanpa memiliki motif tertentu. Inilah yang disebut dengan pembohong patologis.

Mengenai hal itu, dosen Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Nido Dipo Wardana menuturkan bahwa terdapat perbedaan pemahaman antara orang awam dan para tokoh psikologi atau psikiatri terkait dengan fenomena satu ini. "Yang penting untuk dipahami dari pembohong patologis adalah orang yang berbohong tapi tanpa ada sebab yang jelas kenapa mereka berbohong," papar Nido melalui keterangan tertulis, Rabu (6/4).

Ia melanjutkan fenomena pembohong patologis, harus dibedakan dari bentuk-bentuk kebohongan lain yang sama-sama kronis namun memiliki motif yang jelas di balik kebohongannya. "Ada bentuk-bentuk pembohong kronis lainnya yang juga suka berbohong tapi motifnya bisa kita identifikasi," ujar Nido.

Tidak hanya itu, ia juga mengatakan penyebab seseorang menjadi pembohong patologis belum diketahui secara pasti lantaran fenomena itu belum mendapat banyak perhatian ilmiah. Namun, dari sudut pandang biologis, Nido menjelaskan bahwa terdapat perbedaan cara kerja otak pada orang dengan kebiasaan berbohong patologis utamanya di bagian otak depan.

"Hal ini menyebabkan seorang pembohong patologis kurang mampu mengendalikan impuls (dorongan) untuk melakukan kebohongan," ujarnya.

Dari sudut pandang psikologis sendiri, sambung Nido, seseorang dengan kebiasaan berbohong patologis ini kerap kali ditemui pada individu yang memiliki harga diri rendah. "Kadang-kadang, konten kebohongan yang dia buat itu adalah bentuk dari semacam ideal self-nya," tegas Nido.

Seorang pembohong patologis, sambungnya, tidak jarang akan mengalami stres dalam kehidupan sehari-harinya. Hal itu, lanjutnya, disebabkan karena memiliki tuntutan untuk terus menyebarkan kebohongan lain untuk menjelaskan kebohongan yang ia lakukan sebelumnya.

"Itu semacam rantai yang susah diubah sehingga secara komitmen memberatkan individu karena harus berpikir keras untuk fabricating informasi yang tidak benar," ujar Nido.

Selanjutnya, Nido menegaskan bahwa mengingat masih minimnya studi mengenai fenomena pembohong patologis itu, belum diketahui pasti apakah kondisi tersebut dapat dihilangkan atau tidak. Perlu untuk dipastikan terlebih dahulu apakah fenomena itu sama dengan gangguan kompulsif lainnya.

"Kalau kita tempatkan pembohong patologis di posisi yang sama dengan gangguan kompulsif, maka asumsinya adalah bisa dibantu untuk menghilangkan kebiasaan ini. Tentu saja dengan terapi serta mungkin nantinya bisa dikembangkan medikasi dan segala macam," jelas Nido.

"Tetapi, untuk pastinya ini perlu riset yang mendalam lagi," lanjutnya.

Pada akhir, Nido mengatakan bahwa untuk menghadapi orang dengan sifat berbohong yang patologis, tentu bukan perkara yang mudah. Jika orang terdekat seperti teman atau bahkan pasangan merupakan seorang pembohong patologis, Nido menyarankan agar tidak menghadapinya dengan konfrontasi penuh.

"Coba konfirmasi (informasi dalam kebohongannya) kemudian dibantu untuk melihat bahwa mereka sudah sering berbohong. Bisa diajak berpikir bagaimana solusi selanjutnya," pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

25 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

34 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.