AirAsia Tertekan Utang dan Merugi, Malaysia Siapkan Skenario Darurat Lewat Batik Air dan Malaysia Airlines
📅 Jumat, 23 Okt 2026, 00:16 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SKUALA LUMPUR – Maskapai berbiaya rendah AirAsia menghadapi tekanan keuangan serius. Pemerintah Malaysia dikabarkan mulai menjajaki kemungkinan Malaysia Airlines dan Batik Air mengambil alih sebagian rute domestik AirAsia jika kondisi keuangan maskapai tersebut semakin memburuk.
Menurut laporan Channel NewsAsia pada Kamis (22/10), langkah tersebut merupakan bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan gangguan operasional, bukan keputusan resmi untuk mengalihkan rute AirAsia.
Tekanan keuangan perusahaan tercermin dari kerugian bersih sebesar 831 juta ringgit Malaysia atau sekitar 204 juta dolar AS pada kuartal II 2026. Reuters melaporkan, kerugian itu antara lain dipengaruhi lonjakan harga avtur dan kerugian kurs.
Per 30 Juni 2026, liabilitas lancar AirAsia tercatat mencapai 18,4 miliar ringgit, sementara saldo kas dan bank sekitar 954 juta ringgit. Perusahaan juga dilaporkan memiliki tagihan kepada operator bandara Malaysia sedikitnya 500 juta ringgit.
Di tengah tekanan tersebut, AirAsia berupaya memperoleh pendanaan baru, termasuk melalui target penghimpunan dana internasional hingga 1 miliar dolar AS dan fasilitas kredit domestik sebesar 700 juta ringgit.
Namun, harapan mendapat dukungan pemerintah belum pasti. Pada 20 Oktober, Kementerian Keuangan Malaysia menyatakan belum berkomitmen memberikan bantuan pendanaan kepada AirAsia.
Perusahaan sebelumnya menyebut penggalangan modal dan pembiayaan ulang utang sebagai bagian dari strategi memperbaiki kondisi keuangan serta menjaga keberlanjutan bisnis.
Meski situasinya mengkhawatirkan, belum ada pengumuman resmi bahwa AirAsia bangkrut atau menghentikan seluruh operasinya. Kondisi perusahaan saat ini lebih tepat disebut mengalami tekanan keuangan serius, dengan kelangsungan bisnis bergantung pada keberhasilan memperoleh pendanaan dan mengelola kewajiban.
Pemerintah Malaysia pun terus mempersiapkan skenario antisipasi jika tekanan tersebut berdampak pada jaringan penerbangan domestik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!