Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Penelitian Australia: Anak-anak Korban Penganiayaan Berisiko Dua Kali Lebih Tinggi Meninggal Muda

📅 Rabu, 16 Des 2020, 06:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Penelitian Australia: Anak-anak Korban Penganiayaan Berisiko Dua Kali Lebih Tinggi Meninggal Muda Doc: Antara

CANBERRA -- Sebuah studi di Australia menemukan bahwa anak-anak korban penganiayaan menghadapi kemungkinan meninggal di usia muda dua kali lebih tinggi.

Para peneliti mengatakan studi tersebut, yang dipublikasikan oleh Universitas Australia Selatan (University of South Australia/UniSA) pada Senin (14/12), menjadi penelitian pertama di dunia yang mempelajari dampak penganiayaan anak terhadap risiko kematian di usia remaja atau dewasa muda.

Studi itu berfokus pada kehidupan 331.000 warga Australia Selatan yang berusia muda, dengan satu dari lima orang pernah melakukan kontak dengan Layanan Perlindungan Anak. Sebanyak 980 orang dalam kelompok tersebut meninggal di usia antara 16 sampai 33 tahun.

Kematian akibat alkohol, keracunan, zat lainnya atau kesehatan mental sebagai salah satu faktornya, lima kali lebih mungkin terjadi di antara mereka yang pernah dianiaya dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalaminya. Selain itu, kemungkinan mereka melakukan bunuh diri juga tiga kali lebih tinggi.

Leonie Segal, kepala peneliti UniSA, menyebut temuan itu mengkhawatirkan.

"Anak muda yang mengalami penganiayaan saat masih kanak-kanak atau tidak melapor ke (layanan) perlindungan anak, dan kondisinya sudah tergolong sebagai masalah serius, menghadapi kemungkinan meninggal di usia muda dua kali lebih tinggi dibanding anak-anak yang tidak pernah berurusan dengan layanan perlindungan anak," paparnya dalam pernyataan media.

"Hasil ini menuntut perhatian kita ... Bagaimana kita bisa menjadi lebih baik, mulai dari usia dini, untuk menghentikan terjadinya kematian sebelum waktunya," lanjut Segal.

Terlepas dari temuan dalam penelitian tersebut, Segal mengatakan ada peluang untuk memperbaiki masa depan para korban penganiayaan ini.

"Menunggu sampai upaya bunuh diri pertama dilakukan oleh seorang remaja atau orang dewasa muda sebelum melakukan intervensi adalah kesempatan besar yang disia-siakan. Jika kita tahu seorang bayi, anak, atau remaja menghadapi risiko, kita tentu dapat menawarkan bantuan intensif berbasis keluarga yang diperlukan sebelum lebih banyak lagi anak muda yang mengalami trauma meninggal akibat kematian dini," ungkapnya.

"Sebagai masyarakat, kita perlu menyadari peran kita dalam tragedi ini," imbuh Segal.ant/P-4

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Ekonomi
Kinerja Semester I 2026: Pe...

Mau Tujuh Belasan di Istana? Segera Daftarkan Diri

Mau Tujuh Belasan di Istana? Segera Daftarkan Diri

05 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.