Daeng Mohammad Faqih : Pembatasan Sosial Membantu Tenaga Medis
📅 Sabtu, 02 Mei 2020, 03:00 WIB | Oleh: Tim PenulisPaling penting adalah tes PCR. Itu sudah terstandar WHO. Tes cepat hanya penelitian, bukan penentuan. Itu menggambarkan kondisi awal. Kalau ada yang perlu ditindaklanjuti maka akan dites PCR. Pemerintah sudah menyiapkan 400.000 lebih reagen PCR. Ini penting agar tes PCR massal dapat dilakukan.
Bertambahnya reagen yang telah didistribusikan akan mampu meningkatkan penanganan. Diharapkan itu bisa ditarget sepuluh ribu per hari. Alatnya ada seratus ribu lebih. Itu sudah dua kali lipat tesnya.
Ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) sudah mencukupi?
Sekarang relatif bagus, tapi dokter di rumah sakit swasta masih mengeluh ketersediaan APD. Mereka akhirnya memodifikasi dengan jas hujan dan plastik. Kadang, mereka dapat APD, tapi tidak sesuai standar. Itu tidak menjamin mereka tidak terpapar. Untuk itu pemerintah harus memperhatikan karena rumah sakit swasta diminta pemerintah menangani Covid-19. Kebutuhan seperti APD, alat, dan obat, harus diperhatikan.
Rumah sakit swasta jangan dilupakan. Pembiayaannya ini mereka mandiri. Keuntungan mereka saat ini hanya 30 persen dari biasa. Pengeluarannya malah lebih banyak. APD bahkan diperlukan fasilitas kesehatan tingkat pertama misal Puskesmas dan klinik biasa karena lebih rawan. Mereka lebih rawan karena campur semua di sana.

Kesiapan dokter di daerah mencukupi?
Kalau kebutuhan dokter, tiap daerah punya kebutuhan masing-masing. Tapi social distancing atau pembatasan sosial di daerah harus dilakukan. Daerah harus menyiapkan rumah sakit khusus Covid-19. Kalau perlu rumah sakit darurat. Harus disiapkan jangan sampai ketika ada kejadian tidak siap.
Memang fasilitas di daerah tidak sebagus di DKI Jakarta. Daerah sangat rentan. Penanganannya bukan dokter, tapi mencegah penularan masif juga penting. Pemerintah daerah harus respons dan menjalankan pembatasan sosial di daerahnya. bahkan sampai tingkat desa harus dilakukan pembatasan mobilitas penduduk.
Di tingkat desa bisa menyiapkan rumah isolasi. Itu harus disiapkan. Seluruh warga desa harus terlibat dalam melacak kontak fisik. Kalau itu digerakan oleh semua maka rantai pemutusan di desa bisa dilakukan. Kalau tidak, banyak yang sakit, tapi fasilitas tidak sebaik di DKI.Dokter harus didukung kebijakan pembatasan sosial. Bahkan pembatasan di tingkas desa harus dilakukan.
Tadi disebutkan penambahan fasilitas di rumah sakit. Apa yang bisa dilakukan mengatasi lonjakan kasus?
Harus ada strategi penataan. Sekarang ada rumah sakit rujukan dan rumah sakit darurat Covid-19. Rumah sakit rujukan harusnya merawat para pasien yang gejalanya berat atau gejala pernapasan pneumonia. Kalau belum parah bisa di Rumah Sakit Wisma Atlet. Ini penting bagi dokter dan pasien. Rumah sakit juga harus dinamis. Jangan statis. Kalau ketersediaan fasilitas di rumah sakit tersebut kurang, harus ditambah.
Bagaimana IDI menanggapi kasus kematian dokter?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!