Periset Temukan Cacat Pada Pengenalan Wajah
📅 Sabtu, 21 Des 2019, 02:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: AFP/DAVID MCNEW
WASHINGTON DC - Sistem pengenalan wajah (facial recognition) ternyata bisa menghasilkan kesalahan data yang sangat tidak akurat terutama saat memindai seseorang non-kulit putih. Temuan itu ditemukan lewat sebuah studi yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang dipublikasikan pada Kamis (19/12) lalu, dan kesalahan itu diprediksi akan menghambat pemakaian teknologi kecerdasan buatan.
"Puluhan studi terkait puluhan algoritma pengenalan wajah menunjukkan adanya tingkat kesalahan secara positif saat pemindaian terhadap warga Asia dan Afrika-Amerika sebanyak 100 kali lebih tinggi daripada warga kulit putih," demikian laporan periset di National Institute of Standards and Technology (NIST) yang merupakan sebuah pusat lembaga riset milik pemerintah AS.
"Juga ditemukan dua algoritma yang gagal mendeteksi jender terhadap perempuan kulit hitam yang persentasinya hampir mencapai 35 persen," imbuh NIST. Laporan studi itu dipublikasikan ditengah gencarnya penempatan teknologi pengenalan wajah untuk membantu petugas penegak hukum, bandara, keamanan perbatasan, perbankan, ritel, sekolah dan teknologi untuk kepentingan pribadi seperti untuk membuka telepon pintar. Berdasarkan temuan itu, sejumlah aktivis dan periset mengklaim potensi kesalahan itu bisa menyebabkan seseorang yang tak bersalah bisa dipenjarakan dan teknologi tersebut bisa disalahgunakan atau diretas dengan membuat basis data palsu.
Kesimpulan NIST menyebutkan dua kesalahan secara positif terhadap individu yang secara keliru identifikasinya akibat algoritma gagal memindai wajah seseorang berdasarkan basis datanya. "Kesalahan secara negatif mungkin bisa menyebabkan ketidaknyamanan contohnya Anda tak bisa membuka telepon," kata Patrick Grother, ketua periset di NIST.
"Namun kesalahan secara positif dalam pemindaian secara acak yang menghasilkan ketidakcocokan terhadap banyak pengguna, membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut," imbuh dia.
Dalam studi itu pun diungkapkan bahwa sistem pengenalan wajah buatan AS mengalami tingkat kesalahan yang amat banyak terhadap kelompok warga Asia, Afrika-Amerika, bahkan terhadap penduduk asli Amerika, dimana tingkat kesalahan secara positif paling besar terjadi saat memindai warga Indian Amerika.
Ditemukan pula bahwa sejumlah alogaritma yang dikembangkan di negara-negara Asia juga mengalami tingkat akurasi yang sama saat mencocokkan wajah warga Asia dan Kaukasia, yang menurut para peneliti bahwa disparitas itu masih dapat diperbaiki.
Belum Siap Menyikapi laporan temuan oleh NIST, Jay Stanley dari lembaga American Civil Liberties Union yang mengkritik penggunaan pengenalan wajah, mengatakan bahwa teknologi itu belum siap untuk disebarluaskan.
"Para periset pemerintah telah mengkonfirmasi bahwa teknologi pemantauan itu cacat dan bias," kata Stanley.
"Sebuah kesalahan bisa menyebabkan kita tak bisa naik pesawat terbang, interogasi yang panjang, masuk dalam daftar pantauan, memicu ketegangan dengan polisi, salah tangkap bahkan lebih buruk.
Tetapi kekurangan teknologi hanya satu masalah," pungkas dia seraya menegaskan bahwa teknologi pengenalan wajah, akurat atau tidak, bisa luput dalam upaya pengawasan dan kecurigaan pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. SB/AFP/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!