Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads
-

'Fusion Food' dan Generasi Milenial

📅 Senin, 25 Nov 2019, 01:00 WIB | Oleh:

"Makanan asing mix atau fusion saat pembukaan akan rame karena mencoba," ujar Lucky Permana, Vice President Profesi dan Pendidikan ICA. Selebihnya, masyarakat akan kembali ke makanan otentik dalam negeri. "Jadi makanan Indonesia paling enak sedunia karena rempah-rempahnya," ujar dia.

Kekayaan bumbu tersebutlah yang membuat makanan Indonesia masih eksis, tanpa khawatir bakal tergilas masakan asing. Bahkan Lucky yakin bahwa masakan Indonesia menjadi salah satu celah bisnis yang menjanjikan.

Berdasarkan survei jumlah pengunjung rstoran dan pemerhati kuliner yang dilakukan ICA, 60 persen orang Indonesia makan masakan Indonesia. "Makan masakan asing hanya sesekali saja," ujar dia.

Makanan otentik atau asli Indonesia masih memiliki peluang luas untuk dikembangkan menjadi bisnis kuliner. Gado-gado menjadi salah satu contohnya, masakan lain yang bisa dikembangkan, seperti nasi goreng ataupun ketoprak. "Kan belum ada, rumah makan yang khusus nasi goreng," ujar dia

Agar bisnis kuliner dapat bersaing dengan asing, Lucky mengatakan dibutuhkan dukungan pemerintah mulai dari pajak, kemudahan untuk mengimpor maupun penggunaan tenaga kerja lokal untuk masak Indonesia di berbagai negara.

Tanpa dukungan pemerintah, masakan Indonesia sulit untuk memiliki posisi sejajar dengan masakan asing. Seperti masakan Thailand dan Jepang yang telah memiliki bumbu baku sehingga kuliner negara tersebut mudah mengimplementasikan ke sejumlah tempat.

Di dalam negeri sejumlah bumbu, seperti bubuk kayu manis masih dijual dengan harga yang tergolong mahal. Efeknya harga jual makanan akan menjadi mahal.

Dengan adanya pengurangn pajak diharapkan bumbu bubuk dapat dibeli dengan harga yang lebih terjangkau. Sehingga, kuliner dalam negeri dapat dijual dengan harga sesuai kantong masyarakat pada umumnya.

ICA berkomitmen memperkenalkan masakan Indonesia di negerinya sendiri. Untuk itu, mereka bekerja sama dengan sekolahan untuk menciptakan profesional muda. Di sisi lain, mereka telah memberikan sertifikasi profesi yang dikeluarkan BNSP.

Lucky mendorong anggota ICA untuk membuka usaha sendiri. Namun sebelumnya, mereka didorong untuk bekerja di industri. "Supaya tahu tantangan di dunia industri, setelah itu baru membuka usaha sendiri," ujar dia.

Hingga saat ini, ICA yang berusia 12 tahun beranggota 6000 an orang chef dari seluruh Nusantara. Sedangkan, anggota yang aktif sebanyak 4000 an orang. din/E-6

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Olahraga
Laga AC Milan dan Inter Mil...

Kabut Asap Selimuti Kota Palembang

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Kabut Asap Selimuti Kota Pa...

Misi Rahasia di Biak: AS Lacak Prajurit yang yang Hilang

2 jam lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Misi Rahasia di Biak: AS La...
Terindikasi Main Judi Online, Nyaris 1,5 Juta Penerima Bansos Ditahan Bantuannya

Terindikasi Main Judi Online, Nyaris 1,5 Juta Penerima Bansos Ditahan Bantuannya

05 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.