Bangga Merawat Cagar Budaya
📅 Sabtu, 03 Agu 2019, 01:00 WIB | Oleh: Dini DaniswariKPBHI memiliki anggota tergolong banyak, yaitu 3000 orang menurut data Fabruari 2019. Jumlah anggota tersebut berada di wilayah Jabodetabek. Namun bukan berarti keanggotaan hanya terdapat di wilayah itu saja, sejulah pencinta cagar budaya di luar Jabodetabek dan luar Jawa turur bergabung. Untuk menjembatani anggota, mereka kerap melakukan diskusi, setiap hari, melalui online.
Meski banyak melakukan kegiatan terkait cagar budaya, kelompok pemerhati yang berdiri pada 2017 tak selalu mengadakan ajang kopi darat di tempat bersejarah. Kadangkala, mereka melakukan pertemuan di pusat perbelanjaan.
"Tapi, obrolannya tetap cagar budaya," ujar dia. Bagi mereka perkembangan jaman tidak meruntuhkan kecintaan terhadap budaya. Melalui benda-benda budaya, mereka makin mengenali jati diri bangsa. din/E-6
Filosofi Masa Lalu Jadi Bekal Masa Depan
Cagar budaya tidak sekadar benda di masa lalu. Dibaliknya, adalah nilai filosofi yang terkandung di dalamnya. Nilai yang tidak hanya bermanfaat di masa lampau namun juga di masa sekarang.
Bagi Diaz mempelajari cagar budaya tak ubahnya seperti kehidupan yang berulang. "Seperti fashion yang terus berulang, misal sekarang digunakan lagi fashion tahun 1950 an," ujar dia. Alhasil, kehidupan akan berlanjut dan inovasi semakin maksimal.
Sementara Dhanu mengatakan mempelajari cagar budaya dapat sebagai kontrol diri. "Kita bisa lebih bijak menyikapi kehidupan," ujar dia. berbagai prilaku masyarakat yang sedikit menyimpang menjadi salah satu indikator bahwa masyarakat telah lupa akan sejarahnya.
Sikap saling berebut maupun anak kecil yang tidak sopan terhadap orang tua menjadi salah satu contohnya. Mereka tidak menerapkan adat istiadat nenek moyangnya jaman dulu. Masyarakat terlalu terpapar pada budaya luar tanpa adanya kontrol diri. "Meninggalkan budaya lokal akibatnya fatal," ujar dia

Cagar budaya akan mendorong memahami kehidupan nenek moyang di masa lalu. Kearifan-kearifan lokalnya dapat menjadi jati diri bangsa supaya tidak gagap menghadapi budaya asing yang penuh gemerlap. Terlebih dengan memiliki jati diri tidak akan mudah termakan isu-isu yang belum tentu benar.
Sementara Lia Nathalia, Divisi IT KPBMI berpandangan sejarah dari cagar budaya menjadi cara mengetahui sebuah bangsa. "Orang Indonesia banyak yang tidak suka mempelajari sejarah. Padahal itu, hal dasar untuk memajukan sebuah bangsa ," ujar dia melalui aplikasi komunikasi.
Meski benda cagar budaya memiliki manfaat untuk kehidupan manusia. Rupanya, masyarakat masih perlu mengenal lebih dalam. Selain, mereka jarang mengunjungi museum maupun cagar budaya lainnya, terpaan budaya luar menggempur kian derasnya di tengah masyarakat. din/E-6
Sepi Peminat, Museum Perlu Jemput Bola
Museum sebagai tempat penyimpanan benda cagar budaya makin sepi peminat. Koleksi museum yang jauh dari modernitas dianggap kurang menarik terutama kalangan muda.
Dhanu mengatakan, kalangan muda yang kurang tertarik berkunjung ke museum lantaran kehidupan global yang menawarkan modernitas dipandang lebih menarik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!