Melestarikan Fondasi Kuliner Dalam Negeri
📅 Sabtu, 09 Feb 2019, 01:00 WIB | Oleh: Dini Daniswari
Masakan Indonesia diakui bangsa lain sebagai salah satu makanan terenak di dunia. Di dalam negeri, masyarakatnya pun menggemari makanan kaya rempah ini. Untuk itu, Indonesian Chef Association (ICA) berkomitmen memajukan masakan Indonesia.
Maraknya masakan asing yang menyerbu sejumlah restoran di pusat berbelanjaan maupun kafe tidak serta merta mematikan masakan Indonesia. Pasalnya, makan terkait selera. Orang Indonesia terbiasa makan masakan kaya rempah.
"Makanan asing mix atau fusion saat pembukaan akan rame karena mencoba," ujar Lucky Permana, Vice President Profesi dan Pendidikan ICA yang ditemui dalam acara The Legent, di salah satu pusat perbelanjaan dibilangan Jakarta Selatan, belum lama ini.
Selebihnya, masyarakat akan kembali ke makanan otentik dalam negeri. "Jadi makanan Indonesia paling enak sedunia karena rempah-rempahnya," ujar Lucky.
Kekayaan bumbu tersebutlah yang membuat makanan Indonesia masih eksis. tidak khawatir bakal tergilas masakan asing. Bahkan Lucky yakin bahwa masakan Indonesia menjadi salah satu celah bisnis yang menjanjikan.
Berdasarkan survei jumlah pengunjung rstoran dan pemerhati kuliner yang dilakukan ICA, 60 persen orang Indonesia makan masakan Indonesia. "Makan masakan asing hanya sesekali saja," ujar dia.
Makanan otentik atau asli Indonesia masih memiliki peluang luas untuk dikembangkan menjadi bisnis kuliner. Gado-gado menjadi salah satu contohnya, masakan lain yang bisa dikembangkan, seperti nasi goreng ataupun ketoprak. "Kan belum ada, rumah makan yang khusus nasi goreng," ujar dia
Agar bisnis kuliner dapat bersaing dengan asing, Lucky mengatakan dibutuhkan dukungan pemerintah mulai dari pajak, kemudahan untuk mengimpor maupun penggunaan tenaga kerja lokal untuk masak Indonesia di berbagai negara.
Tanpa dukungan pemerintah, masakan Indonesia sulit untuk memiliki posisi sejajar dengan masakan asing. Seperti masakan Thailand dan Jepang yang telah memiliki bumbu baku sehingga kuliner negara tersebut mudah mengimplementasikan ke sejumlah tempat.
Di dalam negeri, sejumlah bumbu, seperti bubuk kayu manis masih dijual dengan harga yang tergolong mahal. Efeknya harga jual makanan akan menjadi mahal.

Dengan adanya pengurangan pajak, diharapkan bumbu bubuk dapat dibeli dengan harga yang lebih terjangkau. Sehingga, kuliner dalam negeri dapat dijual dengan harga sesuai kantong masyarakat pada umumnya.
ICA berkomitmen memperkenalkan masakan Indonesia di negerinya sendiri. Untuk itu, mereka bekerja sama dengan sekolahan untuk menciptakan profesional muda. Di sisi lain, mereka telah memberikan sertifikasi profesi yang dikeluarkan BNSP.
Lucky mendorong anggota ICA untuk membuka usaha sendiri. Namun sebelumnya, mereka didorong untuk bekerja di industri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!