Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

-

Jangan Masukkan Soal Agama ke Politik

📅 Jumat, 28 Sep 2018, 04:34 WIB | Oleh:
Jangan Masukkan Soal Agama ke Politik Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Pesta demokrasi pemilu legislatif dan Pemilu Presiden 2019 agar tidak memasukkan persoalan agama ke dalam politik. Para tim sukses, relawan, atau simpatisan diminta menahan diri dalam perkataan dan perbuatan yang dapat mendorong pertentangan dalam masyarakat majemuk, terutama menyinggung wilayah sensitif.

"Kami dari berbagai agama sudah saling menerima bahwa orang bisa memilih siapa saja. Jadi jangan memasukkan perasaan agama ke dalam bidang politik," kata Rohaniawan Katolik sekaligus Budayawan, Romo Franz Magnis Suseno, dalam tanggapannya pada pesan tokoh lintas agama untuk pemilu yang bermutu dan beradab, di Jakarta, Kamis (27/9).

Dalam acara tersebut, para tokoh agama meminta agar para tim sukses, relawan, atau simpatisan menahan diri dalam perkataan dan perbuatan yang dapat mendorong pertentangan dalam masyarakat majemuk, terutama menyinggung wilayah sensitif menyangkut keyakinan agama, ras, antargolongan, dan suku.

Selain itu, para tokoh agama juga berpesan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) agar melaksanakan tugas masing-masing secara benar, jujur, adil, profesional, imparsial, dengan penuh tanggung jawab.

Segenap warga bangsa juga didorong dalam proses demokrasi Indonesia yang berlangsung aman dan lancar secara jujur dan adil, dan senantiasa mengindahkan nilai-nilai moral dan etika keagamaan.

Franz Magnis mengatakan seharusnya persoalan politik diperlakukan sebagaimana adanya dengan sistem politik di dalamnya. "Harus betulbetul mencegah jangan sampai pemilu demokratis yang akan dilaksanakan tahun depan mau dicamphri dengan unsurunsur agama," katanya.

Romo Magnis mencontohkan para tokoh lintas agama di Indonesia bisa bersama-sama saling menghormati dan menghargai. Sudah seharusnya, menurut Magnis, dalam bermasyarakat juga saling menghormati dan menghargai.

"Begitu juga kita semua saling menghormati dan menghargai dalam menjalankan demokrasi. Menghormati dan menghargai bahwa teman mungkin pilih tokoh berbeda dan kita tetap satu bangsa," kata dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin mengatakan di dalam Islam pengaitan agama dan politik memang tidak dapat terelakkan. "Tentu pengaitan itu harus menekankan nilai etika dan moral," katanya. ags/E-3

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Yen Jepang Babak Belur Diha...
Nanik S Deyang Mundur, Wamentan Sudaryono Siap Emban Amanah sebagai Kepala BGN

Nanik S Deyang Mundur, Wamentan Sudaryono Siap Emban Amanah sebagai Kepala BGN

22 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.