Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hasil Riset Mesti Berujung pada Produk Inovasi

📅 Selasa, 07 Agu 2018, 05:52 WIB | Oleh: Tim Penulis
Hasil Riset Mesti Berujung pada Produk Inovasi Doc: ISTIMEWA
Ket. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Men­ristekdikti), Mohamad Nasir.

JAKARTA - Pemerintah mendorong agar riset, ilmu pengetahuan, dan teknologi tidak berhenti pada produk penemuan, namun harus berujung pada produk inovasi. Dengan demikian, peneliti bisa mendapatkan hasil riset, dan di sisi lain industri juga berkembang.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, usai membuka diskusi Dewan Riset Nasional (DRN) dan kunjungan kerja Dewan Pertahanan Nasional (Wantanas), di Gedung Graha Widya Bhakti Puspiptek, Serpong, Tangerang, Senin (6/8).

Hadir pada kesempatan tersebut, di antaranya Presiden RI ke-3, BJ Habibie, Sekjen Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas), Mayjen Doni Monardo, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristekdikti, Muhammad Dimyati, dan Kepala BPPT, Unggul Priyanto.

Menristekdikti menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan berbagai regulasi untuk mendukung penguatan dan percepatan pengembangan iptek dan inovasi. Salah satu regulasi yang telahdibuat adalah aturan yang mengubah aktivitas riset dari basis aktivitas (activity base) menjadi basis keluaran (output base). Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan No 106 Tahun 2017.

"Cara pandang pengelolaan riset sebagai activity base membuat pertanggungjawaban administrasi lebih rumit dibanding risetnya itu sendiri," terang Nasir.

Selain itu, Nasir juga menerangkan bahwa kini Indonesia telah memiliki dokumen Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) sebagai masterplan pengembangan riset dan inovasi ke depan. RIRN tertuang dalam Perpres No 38 Tahun 2017, dengan prioritas pada sepuluh bidang fokus.

Sementara itu, Presiden RI ke-3, BJ Habibie, menekankan pentingnya investasi dalam penguatan sumber daya manusia sebagai modal utama dalam pembangunan bangsa. "Proses paling penting dalam membangun SDM adalah pembudayaan dan pendidikan," tukasnya.

Menurut Habibie, kunci dalam penguasaan teknologi adalah kemampuan mengolaborasikan SDM dari multidisiplin ilmu. "Tidak ada satu pun produk teknologi yang dihasilkan hanya oleh satu disiplin ilmu," tandasnya.eko/E-3

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Megapolitan
Bendera Merah Putih sepanja...
Nasional
Persiapan jelang 9th GCMC I...

Pemasangan geomembran di TPST Bantargebang

27 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Pemasangan geomembran di TP...

Pasokan air irigasi Bendungan Leuwikeris

33 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pasokan air irigasi Bendung...
Ekonomi
Kemenhub Turunkan Batas Mak...

SIG menghadirkan kembali Semen Kujang

42 menit yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
SIG menghadirkan kembali Se...

Terindikasi Main Judi Online, Nyaris 1,5 Juta Penerima Bansos Ditahan Bantuannya

Terindikasi Main Judi Online, Nyaris 1,5 Juta Penerima Bansos Ditahan Bantuannya

05 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.