Mahakarya yang Membumikan Gandawyuha
📅 Senin, 11 Des 2017, 01:00 WIB | Oleh: Eko S"Kajian Budhalogi atas Borobudur belum berakhir, teka-teki Borobudur masih harus disibak. Tapi analisis Noerhadi adalah sebuah magnum opus dari kalangan akademis Indonesia. Untuk itu tepatlah peneliti Sang Hyang Kamahayanikan ini mendapat anugrah Sang Hyang Kamahayanikan Award," demikian kata kurator dan penasehat BWCF 2017, Romo Mudji Sutrisno SJ saat membacakan pidato anugrah Sang Hyang Kamahayanikan, di Hotel Ambarukmo Plaza, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam paparannya, Romo Mudji mengatakan sangat jarang Borobudur dibedah dari aspek filsafatnya. Disertasi filsafat Noerhadi yang diselesaikan awal 80-an dan diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Candi Borobudur Rekonstruksi Agama dan Filsafatnya, masih bisa disebut sebagai satu-satunya buku dari arkeolog Indonesia yang dengan referensi sangat luas mengupas sisi filsafat Borobudur.
Dalam studinya, Noerhadi, lanjut Romo Mudji, secara gemilang bisa memanfaatkan Sang Hyang Kamahayanikan, sebuah naskah keagamaan berbahasa Jawa Kuno dan Sansekerta yang diperkirakan muncul abad 8 M dan membandingkannya dengan filsafat Yogacara dalam pembangunan Borobudur.
Filsafat Yogacara adalah filsafat yang berkembang di Universitas Nalanda di India pada abad 5 Masehi. Universitas Nalanda dikenal memiliki perpustakaan dengan koleksi jutaan manuskrip.
"Dengan pembacaannya, Noerhadi mengingatkan kita tentang adanya hubungan erat d an tukar menukar pemikiran antara Nalanda, Jawa, dan Sumatra zaman Sumatera pada abad 8 M," katanya.
BWCF ke-6 tahun 2017 secara khusus mengangkat tema, Gandawyuha dan Pencarian Religiusitas Agama-Agama Nusantara. Pada hari pertama seminar, Noerhadi Magetsari, Salim Lee, Niken Wirasanti, menjadi pembabar tema Gandawyuha.
Sementara di hari kedua, seminar berfokus kepada Pengalaman Ketuhanan Penghayat dan Religi Nusantara. Dari Kaharingan hingga kebatinan Sumarah mendapat ruang untuk memaparkan pengalamannya.
"Dengan BWCF tahun 2017 kita ini mengajak sekuat tenaga untuk merawat Indonesia dengan membuka khasanah-khasanah para guru terbaik kita, dari semua agama, semua aliran, dengan toleran, pluralis, dan damai," kata kurator BWCF 2017, Seno Joko Suyono. YK/R-1
Libatkan Ragam Disiplin Ilmu
Arkeolog Balai Pelestari Peninggalan Purbakala, Agus Widiatmoko menjabarkan hubungan Situs Muarajambi di Kabupaten Jambi Sumatera Selatan, Situs Nalanda dan Vikramasila di India.
Menurut Agus, proses penciptaan Borobudur, pastilah melibatkan berbagai disiplin keilmuan. Para cendekiawan dan ahli yang terlibat pada masa itu, pasti didukung institusi pendidikan yang kuat. Sebuah institusi pendidikan yang tidak hanya mengajarkan agama, namun juga bidang kelimuan lain yang berkembang pada waktu itu. Oleh karenanya, memperbincangkan mahakarya agung Borobudur tidak akan lengkap tanpa menelusuri keberadaan pusat pendidikan pada kurun waktu millennium pertama hingga puncak kejayaannya.

Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!