Adu Domba, Budaya Khas dari Kabupaten Garut
📅 Jumat, 04 Agu 2017, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: KORAN JAKARTA/Teguh Rahardjo
Domba, binatang identik dengan Kabupaten Garut. Hewan mengembik ini telah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan kebudayaan kota dengan julukan Swiss van Java ini.
Kulit domba menjadi bahan dari pembuatan jaket, tas, dan sepatu, selain kulit sapi. Dagingnya pun menjadi pilihan para penjual sate kambing. Bahkan restoran di Bandung pun harus mendatangkan langsung dari Garut.
Bahkan domba menjadi salah satu hewan yang menjadi ikon budaya kota ini. Domba sering dilombakan, baik dari sisi kekuatannya dengan adu domba ataupun diadu kecantikan dan kesehatannya.
Pelestarian budaya dan tradisi lokal Sunda khususnya dari wilayah Garut dapat dilakukan melalui kegiatan festival seni ketangkasan dan kontes ternak domba garut.
Seni adu domba di Garut merupakan bagian dari budaya yang melombakan ketangkasan dan kekuatan domba. Memang banyak daerah lain yang menjadikan adu domba sebagai bagian dari seni budayanya, namun tetap saja Garut menjadi panutannya.
Domba sebagai hewan domestik masyarakat agraris ini kemudian berkembang menjadi seni tradisi adu ketangkasan. Dari sejumlah catatan di Disbud Jabar, tradisi seni ketangkasan domba Garut ini berawal dari masa pemerintahan Bupati Suryakanta Legawa sekitar 1815-1829.
Ia sering berkunjung ke sejawat perguruannya bernama Haji Saleh yang mempunyai banyak domba. Sebagai sesama pemilik dan pecinta hewan domba, ia meminta salah satu domba sahabatnya yang dinamai si Lenjang untuk dikawinkan dengan domba yang ada di Pendopo Kabupaten yang bernama si Dewa.
Lenjang dan Dewa beranak si Toblo, yang kemudian beranak-pinak menghasilkan keturunan domba Garut yang dikhususkan sebagai hewan pada pentas seni adu tangkas yang berbeda dengan hewan domestik domba umumnya.
Adu ketangkasan domba Garut ini menjadi salah satu pengembangan wisata karena banyak menyedot perhatian masyarakat. Penonton dan peserta pun bukan saja berasal dari Garut. Banyak pemilik domba aduan dari daerah Bandung, Tasik bahkan Jakarta yang ikut bermain.
Setiap ada pergelaran laga adu domba, hampir seluruh peternak dan kolektor domba aduan akan berkumpul. Sebab selain untuk menguji kekuatan domba aduan dan menjadi jawara domba adu, even ini menjadi bagian dari upaya untuk melestarikan budaya dan mengembangkan domba aduan khas Garut.
Domba aduan ini secara fisik memang terlihat berbeda. Pada umumnya mempunyai fisik yang kekar dengan tanduk yang panjang melengkung. Warna bulunya tertata rapi baik putih, hitam atau perpaduan.
Saat mengikuti kontes aduan, penampilan juga tidak boleh dilupakan. Domba jagoan dihias seperti halnya ratu, dengan kalung yang mentereng, mayoritas berwarna merah. Tidak lupa dengan kalung bunga dan sesajian oleh pawang. Sementara musik tradisional mengiringi pergelaran adu domba ini.
Domba yang dipertandingkan tentunya harus memiliki kriteria sama. Misalnya kategori kelas di atas bobot 75 kilogram atau masuk kelas A tidak boleh diadu dengan kelas di bawahnya. Juri atau panitia yang akan menentukan masing-masing lawan.
Saat diadu, masing-masing domba akan dibawa pemilik yang biasanya mengenakan baju adat pangsi, serba hitam dan topi kulit. Mereka masuk arena dan mempertemukan domba yang akan diadu. Saat kedua domba sudah siap, pemilik akan melepaskan. Domba akan mengambil ancang-ancang, mundur beberapa meter. Lalu keduanya akan berlari untuk mengadu kekerasan tanduknya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!