
Upaya memberantas geng motor di Sukabumi
Geng motor berulah di Jalan Raya Sukabumi-Bogor tepatnya di Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jabar beberapa waktu lalu.
Foto: ANTARA/ Aditya A RohmanSukabumi, Jabar -- Aksi geng motor di Kota dan Kabupaten Sukabumi menjadi permasalahan yang seakan sulit ditangani, padahal berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah setempat maupun pihak kepolisian.
Sejak awal 2025 sudah terjadi beberapa aksi geng motor yang terjadi di Kota maupun Kabupaten Sukabumi.
Di awal tahun, terjadi aksi arak-arakan puluhan anggota geng motor di daerah perbatasan antara Kabupaten Sukabumi dengan Kabupaten Bogor tepatnya di Jalan Raya Sukabumi-Bogor, Desa Benda, Kecamatan Cicurug. Akibat kejadian ini warga sekitar merasa khawatir dan beberapa pengemudi mendapat ancaman dari anggota geng motor menggunakan senjata tajam.
Di awal Februari, warga di Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, diresahkan dengan adanya aksi penyerangan yang dilakukan oleh puluhan anggota geng motor yang mengatasnamakan Geng Los Angels. Dalam melakukan aksinya mereka membawa senjata tajam dan sempat terjadi bentrokan dengan warga sekitar, beruntung pada kejadian ini tidak ada korban.
Selain kedua aksi tersebut, hampir di setiap akhir pekan sejumlah warga internet atau netizen menginformasi di salah satu grup Facebook Sukabumi tentang adanya aksi penyerangan yang dilakukan oleh geng motor terhadap warga yang mengakibatkan adanya korban luka.
Maraknya aksi geng motor ini tentu membuat resah masyarakat, bahkan mengancam keselamatan jiwa. Dampak lainnya, warga kesulitan beraktivitas di luar rumah pada malam hari karena khawatir menjadi korban penyerangan geng motor yang biasanya melakukan penyerangan secara acak kepada siapapun yang berpapasan dengan mereka.
Tidak hanya di perkotaan
Aksi meresahkan geng motor ternyata tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, tetapi juga sudah merambah ke pedesaan hingga objek-objek wisata.
Awal Februari, sekelompok yang diduga anggota geng motor konvoi di Desa Panumangan, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi. Kejadian ini sempat direkam oleh warga sekitar dan diunggah ke media sosial Facebook. Setelah diselidiki oleh pihak kepolisian ternyata konvoi dan aksi geng motor di jalan desa tersebut adalah kemeriahan acara perekrutan anggota baru yang mayoritas anggota dan calon anggotanya masih berusia antara 14-17 tahun atau baru duduk di bangku SMP dan SMA. Keberadaan berandal bermotor ini berhasil diungkap personel Polsek Jampang Tengah, dan ternyata mereka bukan merupakan warga setempat tetapi berasal dari luar daerah.
Aksi geng motor di perkampungan sebelumnya juga terjadi pada 2023. Ketika itu, puluhan anggota geng motor bersenjata tajam melakukan konvoi sembari mengancam warga dan pengendara lainnya di Jalan Masjid Biru atau di Jalan Cimahi, RT 28/6, Desa Cibolang Kaler, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi.
Akibat aksi sekelompok remaja ini warga setempat tidak berani keluar rumah. Polres Sukabumi Kota yang menerima informasi tersebut langsung memburu dan mengejar serta berhasil mengamankan beberapa anggota geng motor yang usianya masih remaja.
Selain beraksi di perkampungan, aksi geng motor juga pernah terjadi di lokasi-lokasi objek wisata salah satunya terjadi di 2024 lalu tepatnya di Kampung Katapang Condong dan Kampung Kebon Kalapa, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu.
Aksi anggota geng motor yang cirinya kerap membawa bendera Amerika Serikat tersebut, terkenal nekat dan berani menyerang hingga ke permukiman warga.
Masyarakat yang sudah merasa geram akhirnya melakukan perlawanan terhadap geng motor yang bersejatakan celurit dan pedang itu.
Warga pun mengepung kelompok geng motor yang masuk ke warung-warung wisata yang berada di sekitar objek wisata Pantai Citepus. Akibat kejadian ini salah seorang warga terkena sabetan senjata tajam di bagian lengan kanannya.
Selain beberapa contoh di atas,, masih ada puluhan kasus geng motor lainnya yang aksinya tidak lagi meresahkan tetapi mengancam keselamatan orang lain. Aksi anarkis dan brutal mereka pun mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah dan jajaran kepolisian baik Polres Sukabumi maupun Polres Sukabumi Kota, bahkan pihak TNI pun siap diperbantukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Menyerang secara acak
Kekerasan yang dilakukan anggota geng motor di Sukabumi tidak hanya terjadi terhadap sesama anggota geng motor yang bertikai atau bermusuhan tetapi geng motor bisa menyerang siapa saja yang dianggap mengganggu aktivitas mereka.
Ada beberapa catatan, kejadian geng motor yang aksinya mengakibatkan korbannya terluka hingga tewas.
Pertama menyerang anak tokoh masyarakat di Kota Sukabumi di Gang Babakan Sirna, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Meskipun kejadian ini sudah berlangsung lama atau pada 2020 lalu, tetapi ini membuktikan bahwa geng motor menyerang siapa saja tanpa pandang bulu.
Kejadian ini pun sempat membuat Kota Sukabumi mencekam. Warga yang bergabung dengan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) melakukan penyisiran untuk memburu para pelaku yang melakukan pembacokan dan penganiayaan terhadap anak dari Dankih AS Nuklir yang merupakan salah satu tokoh yang cukup berpengaruh di Kota Sukabumi.
Beruntung gerak cepat personel Polres Sukabumi Kota, berhasil menangkap lima pemuda, bahkan satu diantaranya harus dihadiahi timah panas pada betis sebelah kanannya karena melakukan perlawanan saat hendak ditangkap.
Kasus lainnya, seorang ibu rumah tangga bernama Aas Hayati (55) warga Desa/Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi menjadi korban pembacokan sekelompok anggota geng motor.
Kasus in membuat miris karena, selain korbannya merupakan emak-emak, peristiwa ini terjadi saat korban baru pulang melayat dan di malam perayaan Idul Fitri di 2021 lalu. Terungkap bahwa aksi penyerangan yang dilakukan sekelompok pemuda anggota geng motor ini akibat para pelaku sebelum beraksi mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan minuman keras. Kasus ini berhasil diungkap Polres Sukabumi Kota dengan menangkap empat pelaku dan menyita empat sepeda motor yang digunakan pelaku dan beberapa bilah senjata tajam.
Selanjutnya, seorang pemuda yang hendak main ke rumah rekannya di Kecamatan Gegerbitung yakni Cecep Maulana (20) warga Desa Perbawati, Kecamatan/Kabupaten Sukabumi, tewas akibat dikeroyok anggota geng motor.
Peristiwa pada 2022 lalu ini, terjadi saat korban bersama dua rekannya dengan menggunakan dua sepeda motor diserang anggota geng motor di Jalan RA Kosasih, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.
Kebrutalan geng motor juga dirasakan pedagang nasi goreng dan seorang pelajar di Jalan Pelabuhan II, Kelurahan Lembursitu, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi. Kejadian yang terjadi pada Juli 2023 ini mengakibatkan pedagang nasi goreng mengalami luka bacok di pinggang dan seorang pelajar terkena bacokan di punggung. .
Akar masalah
Pembubaran geng motor, hingga tindakan tegas pihak kepolisian terhadap anggota geng motor yang berulah seperti tembak di tempat dan mempidanakan para pelakunya ternyata tidak bisa memberikan efek jera.
Keberadaan geng motor di Kota dan Kabupaten Sukabumi terus berkembang. Meskipun tokoh-tokoh geng motor sudah pensiun dan berhenti total dari aktivitas mereka sebagai dedengkot berandal bermotor, ternyata geng motor tetap eksis dan muncul bibit-bibit baru yang mirisnya mayoritas berusia remaja atau belasan tahun.
Salah satu yang menjadi penyebab utama keberadaan geng motor terus berkembang adalah karena banyak orang tua yang membiarkan anaknya yang masih di bawah umur atau di bawah 17 tahun mengendarai sepeda motor. Tidak sedikit orang tua yang sengaja dan terang-terangan mengajarkan anaknya tersebut mengendarai, bahkan membelikan sepeda motor.
Para orang tua tersebut selalu beralasan untuk memenuhi rasa kasih sayang dan membantu anaknya untuk mempermudah dalam beraktivitas khususnya berangkat dan pulang sekolah.
Ternyata, ungkapan rasa kasih sayang tersebut merupakan tindakan yang bisa mengantarkan anaknya terjerumus dengan kegiatan-kegiatan yang negatif salah satunya bergabung dengan geng motor.
Selain itu, dengan memberikan izin kepada anaknya yang masih di bawah umur juga harus siap kehilangan anaknya salah satunya berpotensi terjadi kecelakaan lalu lintas.
Berkaca dari banyaknya kasus geng motor, sudah saatnya masyarakat sadar bahwa adanya kemudahan mendapatkan sepeda motor, baik dengan cara membeli secara tunai maupun kredit, juga harus dilihat efek negatifnya apalagi sepeda motor tersebut disediakan untuk anaknya yang masih di bawah umur.
Tidak ada alasan bagi orang tua memberikan izin kepada anaknya yang masih di bawah umur untuk mengendarai sepeda motor sendiri. Aturan ini sudah dalam diatur dalam Pasal 77 dan 81 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Berdasarkan UU tersebut, anak yang berusia di bawah 17 tahun belum bisa mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) atau dengan kata lain anak di bawah umur dilarang mengendarai sepeda motor sendiri.
Bahkan dalam Pasal 281 disebutkan anak-anak yang berkendara tanpa SIM terancam hukuman pidana kurungan penjara paling lama empat bulan atau denda maksimal Rp 1 juta. Dengan demikian orang tua yang memberikan izin kepada anaknya yang masih di bawah umur mengendarai sepeda motor, berarti dia dengan sengaja dan sadar mengajarkan anaknya untuk melanggar UU tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Selain melanggar aturan, potensi anaknya bergabung dengan geng motor semakin tinggi karena dengan adanya kebebasan tersebut anak kemungkinan besar lebih senang berada di luar rumah.
Awalnya hanya nongkrong biasa, lama kelamaan bisa terjerumus kepada kegiatan negatif seperti balap liar, konvoi hingga bergabung dengan geng motor.
Larangan anak menggunakan sepeda motor pun secara rutin dilakukan oleh pihak kepolisian baik secara persuasif dengan cara memberikan edukasi hingga penindakan secara hukum (tilang) dan menyita sementara sepeda motor.
Bahkan operasi kepolisian di bidang lalu lintas seperti Operasi Patuh dan Operasi Keselamatan, Operasi Zebra dan Simpatik salah satu sasarannya adalah anak di bawah umur yang menggunakan kendaraan bermotor.
Keseriusan memberantas geng motor
Pihak kepolisian di Sukabumi telah melakukan berbagai upaya seperti pengumpulan informasi tentang keberadaan geng motor, termasuk identitas anggota, lokasi operasi, dan modus operandi atau pemetaan.
Kemudian, pengawasan baik melalui patroli maupun penggunaan teknologi seperti CCTV, melakukan penindakan tegas terhadap anggota geng motor yang berulah seperti melakukan tindakan kriminal baik pengancaman, penganiayaan, pemerasan, penyerangan dan lain-lain..
Polisi juga melakukan penggerebekan terhadap lokasi-lokasi yang disinyalir atau digunakan oleh geng motor sebagai tempat persembunyian atau operasi para anggota motor.
Langkah preventif pun dilakukan oleh pemerintah daerah serta kepolisian yakni melakukan pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya geng motor dan pentingnya melaporkan kegiatan geng motor.
Kemudian, membuat program pengembangan diri untuk mencegah adanya pelajar ataupun remaja yang bergabung dengan geng motor, seperti memberikan pelatihan keterangan dan menyediakan sasaran serta prasarana untuk menyalurkan hobi masyarakat.
Langkah tersebut saat ini tengah dilakukan oleh pemerintah dan kepolisian dengan menggandeng masyarakat dan diharapkan melalui kolaborasi tersebut bisa meminimalkan adanya pelajar maupun masyarakat yang bergabung dengan geng motor.
Berita Trending
- 1 Terkenal Kritis, Band Sukatani Malah Diajak Kapolri Jadi Duta Polri
- 2 Pangkas Anggaran Jangan Rampas Hak Aktor Pendidikan
- 3 Akses Pasar Global Makin Mudah, BEI Luncurkan Kontrak Berjangka Indeks Asing
- 4 Bangun Infrastruktur yang Mendorong Transformasi Ekonomi
- 5 Milan dan Bologna Berebut Posisi Empat Besar
Berita Terkini
-
PLN Mengunjungi Pelanggan Potensial di Ambon Jelang Ramadan 2025
-
Mengerikan, Obat Pria Ada Kandungan yang Mematikan
-
Komitmen Pemberdayaan Masyarakat, Pertagas Raih Penghargaan PR Indonesia Award 2025
-
Para Guru Bersukalah, Bakal Dapat Bantuan
-
ICF & CBE 2025 Akan Tampilkan Berbagai Inovasi dalam Ekosistem Kafe dan Brasserie