Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tren Bursa Kerja 2026: Optimalisasi AI, Tantangan Retensi Talenta, dan Peluang Global

📅 Rabu, 28 Jan 2026, 18:00 WIB | Oleh:
Tren Bursa Kerja 2026: Optimalisasi AI, Tantangan Retensi Talenta, dan Peluang Global Doc: Unsplash
Ket. Memasuki 2026, pasar tenaga kerja Indonesia memasuki fase strategis di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlanjut.

JAKARTA - Memasuki 2026, pasar tenaga kerja Indonesia memasuki fase strategis di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlanjut. Meski demikian, proyeksi menunjukkan pasar kerja nasional tetap solid dengan peluang pertumbuhan yang cukup menjanjikan.

Momentum ini tidak hanya datang dari pertumbuhan domestik, tetapi juga dari potensi relokasi industri manufaktur global ke Asia Tenggara. Indonesia dinilai memiliki peluang besar jika mampu bersaing dari sisi infrastruktur, kemudahan berusaha, serta kesiapan sumber daya manusia.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi faktor kunci dalam peta ketenagakerjaan 2026. Jika periode 2023 hingga 2025 menjadi fase adopsi, maka 2026 diprediksi menjadi fase optimalisasi pemanfaatan AI di berbagai sektor.

Laporan eksklusif Hiring, Compensation, and Benefits 2025 dari Jobstreet by SEEK mencatat sebanyak 71 persen perusahaan di Indonesia kini mempertimbangkan pengetahuan AI kandidat saat proses rekrutmen. Data ini menunjukkan AI tidak lagi sekadar nilai tambah, tetapi telah menjadi kebutuhan dasar.

Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director Indonesia Jobstreet by SEEK, menegaskan perubahan ini berdampak langsung pada peta kompetensi tenaga kerja. Menurutnya, AI kini dibutuhkan lintas fungsi, bukan hanya di bidang teknologi.

"Dari perkembangan tersebut, keterampilan terkait AI tentunya akan semakin dibutuhkan lintas fungsi. AI tidak lagi eksklusif milik engineer, tetapi menjadi keharusan untuk berbagai divisi termasuk pemasaran, operasional, hingga keuangan. Kuncinya terletak pada AI literacy, data literacy, dan kemampuan mengintegrasikan AI ke alur kerja untuk mendongkrak produktivitas," ujar Wisnu Dharmawan.

Seiring masifnya otomatisasi, pekerjaan yang bersifat repetitif dan administratif diprediksi semakin tergerus. Nilai tambah tenaga kerja akan bergeser ke kemampuan analisis, pemecahan masalah kompleks, kreativitas, serta pengambilan keputusan berbasis data.

Di tengah isu gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK, kondisi pasar tenaga kerja Indonesia dinilai relatif stabil. Data menunjukkan sektor layanan kesehatan, manufaktur, dan ekonomi digital masih mencatat tren pertumbuhan positif.

Fenomena lain yang muncul adalah job hugging, yakni kecenderungan pekerja bertahan di posisi saat ini demi keamanan karier. Kondisi ini membuat mobilitas tenaga kerja melambat dan memaksa perusahaan lebih agresif membangun employer branding serta menawarkan jalur karier yang jelas.

Di sisi internal perusahaan, strategi retensi juga menjadi tantangan utama. Perusahaan didorong mengidentifikasi "sunset skills" atau keterampilan rutin yang rentan tergantikan otomatisasi, lalu melakukan program upskilling secara terarah.

"Cara sederhananya, bandingkan deskripsi pekerjaan di perusahaan dengan lowongan terkini di pasar tenaga kerja. Bila pasar mulai menuntut elemen AI, data, atau cloud yang belum dimiliki tim saat ini, itu sinyal perlunya program upskilling terarah dari perusahaan," ujar Wisnu Dharmawan.

Tantangan lain datang dari daya tarik pasar kerja global. Laporan Decoding Global Talent 2024 dari SEEK mencatat sekitar 67 persen pekerja Indonesia tertarik bekerja di luar negeri demi pengalaman internasional dan kualitas hidup yang lebih baik.

Bagi perusahaan nasional, kondisi ini menjadi alarm penting untuk memperkuat strategi retensi talenta. Selain kompensasi yang kompetitif, perusahaan perlu menawarkan jalur pengembangan karier, peluang pembelajaran global, serta fleksibilitas kerja.

"Tahun 2026 bukan sekadar tentang siapa yang merekrut paling cepat, tetapi siapa yang mampu memetakan potensi talenta paling akurat. Bagi pencari kerja, portofolio dan micro-credentials akan menjadi bukti kompetensi yang lebih bernilai dibanding gelar semata," tutup Wisnu Dharmawan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

41 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.