Teknologi Satelit Optik Tangani Pencemaran Laut dari Angkasa
📅 Senin, 06 Nov 2023, 13:48 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Nmedia
Pingkan Mayestika Afgatiani, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Anisa Rarasati, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Argo Suhadha, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Pencemaran laut di Indonesia telah menjadi ancaman serius terhadap ekosistem dan mata pencaharian nelayan, salah satu contohnya adalah kasus Teluk Buyat di Sulawesi Utara yang tercemar oleh merkuri dan arsen.
Untuk mengatasi tantangan luasnya perairan Indonesia, teknologi pengindraan jauh melalui satelit optik menjadi solusi. Dengan memberikan data aktual mengenai kondisi laut dalam wilayah yang luas, teknologi ini memungkinkan deteksi pencemaran secara aktual, seperti mendeteksi kualitas air dan sampah laut, yang esensial untuk langkah-langkah konservasi.
Bekerja layaknya kamera
Satelit optik memiliki cara kerja yang mirip dengan kamera saku atau pun kamera ponsel yang sering kita gunakan sehari-hari.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebuah kamera umumnya memiliki tiga buah kanal sensor yaitu kanal merah, hijau dan biru. Masing-masing kanal tersebut akan merekam informasi pantulan cahaya yang bersumber dari matahari atau sumber cahaya lainnya yang masuk ke dalam kanal sensor sesuai dengan panjang gelombangnya.
Satelit optik juga memiliki kanal-kanal yang merekam informasi pantulan cahaya seperti halnya kamera. Hanya saja, jumlahnya lebih banyak dan tidak terbatas pada cahaya yang tampak atau visible light. Jumlah dan area sensor kanal ditentukan oleh tujuan dari dibuatnya satelit dan objek yang ingin diamati. Hal ini dikarenakan masing-masing objek memiliki karakteristik masing-masing, tergantung gelombang yang diserap atau dipantulkan. Karakter ini disebut juga dengan spectral signature atau variasi pancaran suatu bahan terhadap panjang gelombang.
Gambar di atas menunjukkan bahwa pola minyak berbeda dengan air laut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pencemar laut memang memiliki karakteristik khas yang dapat membuatnya terpisah dari keadaan air laut yang bersih. Hal ini terjadi karena objek pencemar tidak menyerap beberapa gelombang cahaya tertentu.
Objek apung seperti microplastic dan microalgae, misalnya, dapat terlihat seperti pola bergaris putih atau warna hijau yang berbeda dengan warna air laut yang biasanya biru dalam citra satelit.
Apa saja yang bisa dideteksi?
1. Tumpahan minyak
Tumpahan minyak merupakan salah satu pencemaran yang sering terjadi di laut Indonesia. Pencemaran ini memberikan dampak besar tidak hanya bagi ekosistem laut tetapi juga mata pencaharian nelayan. Minyak yang tumpah di laut, baik yang berasal dari kapal, bangunan pinggir pantai maupun sumur pengeboran lepas pantai akan menutupi permukaan laut, sehingga mengganggu keseimbangan kehidupan di bawahnya.
Dengan mendeteksi tumpahan minyak lebih cepat, kita bisa segera mengambil tindakan untuk membersihkan dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada ekosistem laut. Selain itu, data dari satelit juga bisa digunakan untuk menentukan sumber tumpahan dan membantu dalam proses hukum terkait insiden tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!