Teknologi Perawatan Kanker Payudara Terbaru Berikan Peluang Hidup Lebih Besar
📅 Jumat, 31 Okt 2025, 14:58 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
JAKARTA – Setiap bulan Oktober, dunia serentak memperingati Bulan Kesadaran Kanker Payudara. Momen ini diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa deteksi dini adalah kunci utama untuk umur yang lebih panjang.
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), kanker payudara masih menjadi jenis kanker paling umum terjadi pada perempuan di Indonesia. Angkanya mencapai hampir 30% dari semua kasus kanker di seluruh Indonesia.
Melihat perkembangan ini, IHH Healthcare Singapore, sebagai jaringan rumah sakit ternama yang menaungi Mount Elizabeth Hospital, Mount Elizabeth Novena Hospital, Gleneagles Hospital, dan Parkway East Hospital, turut menggarisbawahi pentingnya kesadaran dan akses mudah terhadap perawatan kanker payudara terdepan, khususnya bagi perempuan Indonesia.
Kemajuan pesat dalam ilmu kedokteran kini telah mengubah pandangan tentang ketakutan diagnosis kanker payudara dan memberikan secercah harapan. Perawatan kanker payudara kini jauh lebih canggih, minimal invasif, dan dirancang khusus untuk setiap pasien, demi memastikan pasien kembali menjalani hidup dengan kualitas terbaik.
Babak Baru Perawatan yang Personal dan Lebih "Bersahabat"
Sebaiknya Anda baca juga:
Perjalanan perawatan yang efektif dimulai dari pilihan dan pendampingan yang tepat. Di IHH Healthcare Singapore, para ahli medis kini menghadirkan pengobatan kanker payudara melalui pendekatan yang dipersonalisasi, dengan setiap perawatan ditentukan secara detail berdasarkan kondisi medis, profil genetik, hingga tujuan personal setiap pasien.
“Onkologi modern saat ini menghadirkan jenis perawatan yang bisa berikan hasil paling efektif dengan pendekatan paling aman. Pendekatan lama dengan prinsip ‘mengangkat sebanyak mungkin’ bukan lagi fokus kami. Kini, setiap perjalanan perawatan yang dipilih akan berfokus pada presisi dan minimal invasif demi menjaga kenyamanan, kepercayaan diri, dan kualitas hidup pasien,” ujar Senior Consultant Oncoplastic and Minimally Invasive Breast Surgeon di Mount Elizabeth Hospital Novena, Dr. Sabrina Ngaserin, melalui keterangannya pada hari Jumat (31/10).
Prosedur inovatif seperti biopsi dan eksisi (pengangkatan) dengan bantuan jarum atau vakum memungkinkan dokter mendiagnosis atau menghilangkan kelainan kecil hanya melalui satu jalur dan dapat diselesaikan dalam hitungan menit dengan pengaruh bius lokal, bahkan dengan opsi sedasi agar pasien merasa lebih nyaman.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, pasien juga bisa melakukan opsi perawatan lain seperti bedah konservasi payudara onkoplastik (lumpektomi) dan mastektomi yang dapat menyelamatkan kulit dan puting (skin and nipple-sparing mastectomy). Metode ini menggabungkan pengangkatan sel kanker dengan rekonstruksi payudara, sehingga membantu pasien pulih secara fisik dan emosional secara bersamaan.
Bahkan, teknik terbaru seperti bedah endoskopi atau robotik memungkinkan sayatan yang sangat kecil di ketiak atau garis bra, yang tersembunyi dan menghasilkan pemulihan yang lebih cepat dan estetik.
Selain itu, terdapat juga prosedur mastektomi yang melindungi sensasi pada saraf. Prosedur ini dapat menjaga cabang-cabang saraf halus, bahkan mengembalikan sensasi payudara dan puting terutama bila dikombinasikan dengan teknik extended neurotization. Bagi sebagian pasien, tersedia juga krioablasi yang merupakan teknik deep freezing untuk menghancurkan sel kanker sebagai alternatif non-bedah.
Rosalind Sugiono (nama disamarkan untuk privasi), seorang pasien asal Indonesia di Mount Elizabeth Hospital, menceritakan bagaimana hidupnya berubah setelah menerima diagnosis DCIS atau yang lebih dikenal sebagai stadium 0 kanker payudara.
“Awal tahun ini, saya akhirnya memutuskan melakukan pengecekan, apalagi usia saya sudah di atas 40 tahun dan belum pernah menjalani mamografi sebelumnya. Setelah melihat hasil mammogram saya yang menunjukkan ada sesuatu mencurigakan di payudara kanan, dokter menyarankan untuk melakukan biopsi,” ungkapnya.
“Saya sempat takut dan memilih menunda hingga lima bulan. Namun pada pemeriksaan lanjutan, benjolan tersebut ternyata membesar. Saat itu, saya mengikuti saran dokter untuk langsung menjalani biopsi tanpa menunda lagi,” ucap Rosalind.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!