Teknologi P2X untuk Pengembangan Kawasan Industri Hijau di Kaltara, Apa Itu?
📅 Kamis, 13 Apr 2023, 13:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: euractiv/shutterstock
Presiden Joko 'Jokowi' Widodo kerap mendengungkan rencana pengembangan kawasan industri hijau di Kalimantan Utara sebagai salah satu komitmen Indonesia dalam penanganan perubahan iklim. Kawasan yang direncanakan seluas 30 ribu hektare ini akan berfokus pada pengembangan produk yang ramah lingkungan melalui proses yang ramah emisi, termasuk pasokan energinya.
Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan industri bahan bakar sintetik dan produk kimia yang ramah lingkungan melalui teknologi power-to-X (P2X).
Teknologi ini membawa manfaat energi terbarukan lebih jauh, tak hanya sebagai sumber listrik, tapi juga ke dalam proses industri bahan bakar dan kimia.
Di Indonesia, pengembangan energi terbarukan masih berfokus pada dekarbonisasi industri kelistrikan. Padahal, melalui teknologi P2X, energi terbarukan dapat dimanfaatkan untuk memecahkan persoalan sektor industri bahan bakar dan produk kimia - salah satu penyumbang emisi karbon terbesar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apa itu P2X?
P2X adalah teknologi produksi bahan bakar sintetik dan produk kimia komoditas dengan memanfaatkan energi terbarukan. Komponen utama dari P2X adalah proses elektrolisis: proses konversi suatu bahan baku menjadi produk hijau menggunakan listrik dari energi terbarukan.
Proses ini dapat digunakan untuk pembuatan beragam produk: 1) elektrolisis air untuk produksi hidrogen, 2) elektrolisis karbon dioksida untuk produksi gas sintetik (syngas) maupun hidrokarbon (senyawa yang juga terkandung dalam minyak dan gas bumi), 3) elektrolisis nitrogen dari udara untuk produksi amonia (dikenal sebagai bahan baku baterai dan pupuk), dan 4) elektrolisis oksigen dari udara untuk produksi desinfektan hidrogen peroksida.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari beberapa proses di atas, produksi hidrogen melalui elektrolisis air merupakan salah satu proses inti dalam teknologi P2X. Sebab, hidrogen dapat dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan. Beberapa di antaranya adalah sebagai sumber energi alternatif, maupun bahan baku pembuatan pupuk.
Melalui P2X, 'hidrogen hijau' juga menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan hidrogen yang sebagian besarnya (sekitar 96%) bersumber dari bahan bakar fosil. Dampaknya, P2X dapat meredam emisi dari produksi 'hidrogen hitam' sebesar 830 juta ton karbon dioksida per tahun.
Untuk jangka pendek, P2X juga dapat memacu pelaku industri pengguna energi fosil (misalnya pabrik semen) untuk meredam emisi melalui teknologi penangkapan karbon (carbon capture). Hasil tangkapan ini, via proses elektrolisis, dapat dikonversi menjadi syngas, asam format (untuk industri karet), metanol, maupun etanol (bahan bakar alternatif).
Bagaimana P2X diterapkan di kawasan industri hijau Indonesia?
Kawasan industri Kalimantan Utara memiliki potensi besar untuk dikembangkan menggunakan teknologi P2X. Pemerintah sudah menginisiasi batu loncatannya melalui pemanfaatan aliran Sungai Kayan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Namun, pembangunan PLTA umumnya membutuhkan lahan yang sangat luas. Akibatnya, dampak proyek tersebut terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar juga amat besar.
Untuk mengatasi hal ini, Indonesia dapat mengganti teknologi PLTA konvensional dengan teknologi PLTA berbasis pompa (pumped storage hydropower). Teknologi ini dapat menghemat lahan dengan risiko lingkungan yang lebih kecil.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!