Tanpa Peningkatan Produktivitas, Pertumbuhan akan Cenderung Stagnan
📅 Selasa, 31 Mar 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiLonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri adalah faktor musiman, bukan cerminan penguatan daya beli yang berkelanjutan.
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif tetap stabil, karena ditopang oleh konsumsi domestik dan stimulus fiskal pemerintah. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan revisi proyeksi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh lembaga pemeringkat global, lebih dipicu oleh faktor eksternal, terutama kenaikan harga energi dan konflik geopolitik.
“Risiko perlambatan tidak terlalu dalam karena konsumsi domestik dan stimulus fiskal tetap menjadi penopang utama, sehingga ekonomi cenderung melambat secara moderat, bukan mengalami penurunan tajam,” kata Nico dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/3).
Di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang masih berlangsung, Nico mengatakan pelaku pasar masih akan enggan untuk masuk ke dalam aset-aset berisiko, seperti saham, meskipun peluang tetap ada dan terbuka.
“Pasar obligasi, mungkin terlihat menarik, meskipun pelaku pasar dan investor juga menanti imbal hasil obligasi 10 tahun berada di atas 7 persen,” kata Nico.
Sebaiknya Anda baca juga:
Analis ekonomi politik Kusfiardi menilai bahwa kondisi pasar saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen musiman domestik, melainkan oleh supply shock akibat konflik antara AS dengan Iran.
Menghadapi ketidakpastian global, Kusfiardi menilai pelaku pasar masih akan menerapkan strategi ultra-defensif, dengan tindakan diantaranya, pertama, selektivitas sektor untuk tujuan menghindari sektor yang sensitif terhadap biaya energi dan suku bunga, seperti properti dan otomotif.
Selain itu akan fokus pada likuiditas dengan mengalihkan eksposur ke saham-saham perbankan besar (big caps) yang memiliki fundamental kuat dan sektor telekomunikasi yang lebih tahan banting terhadap gejolak komoditas.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Fundamental ekonomi Indonesia memang masih terjaga dengan pertumbuhan di kisaran 5 persen, namun arah pasar ke depan akan sangat bergantung pada respons diplomasi internasional di Selat Hormuz dan keberanian pemerintah dalam menata ulang ruang fiskal di tengah melonjaknya harga energi dunia,” kata Kusfiardi.
Dia pun mengingatkan soal risiko stagflasi pada kuartal II-2026, indikasinya ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi melambat sementara inflasi merangkak naik akibat biaya logistik dan energi yang membengkak.
Punya Bantalan
Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) DIY, Y Sri Susilo, menilai konsumsi domestik dan stimulus fiskal pemerintah sebagai penahan utama di tengah tekanan global.
Kekuatan konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga menjadi faktor kunci yang membuat perlambatan ekonomi tidak terjadi secara drastis. Selama daya beli masyarakat masih bertahan dan belanja pemerintah tetap ekspansif, ekonomi Indonesia memiliki bantalan yang cukup kuat untuk meredam gejolak eksternal.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa stabilitas ini tidak boleh membuat pemerintah lengah. Menurutnya, tekanan global seperti kenaikan harga energi dan konflik geopolitik tetap berpotensi menekan inflasi serta mengganggu kinerja sektor produksi, terutama industri yang bergantung pada impor bahan baku.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!