Strategi Cegah Gagal Panen: Temanggung Minta Tembakau Ditanam Lebih Awal
📅 Jumat, 10 Apr 2026, 22:05 WIB | Oleh: Tim PenulisTEMANGGUNG – Fenomena tanam tembakau lebih awal mencerminkan respons adaptif petani terhadap perubahan pola musim dan ketidakpastian iklim.
Percepatan masa tanam umumnya dilakukan untuk menghindari risiko curah hujan tinggi saat fase panen, yang dapat menurunkan kualitas daun tembakau secara signifikan.
Selain itu, langkah ini juga menjadi strategi untuk menangkap momentum harga yang berpotensi lebih baik di awal musim.
Namun demikian, keputusan ini tidak lepas dari risiko. Ketidaktepatan prediksi musim dapat berdampak pada pertumbuhan tanaman, sementara potensi panen serempak lebih awal justru bisa menekan harga di tingkat petani.
Dengan demikian, tanam lebih awal bukan sekadar strategi percepatan produksi, melainkan cerminan kehati-hatian petani dalam menavigasi kombinasi risiko iklim dan dinamika pasar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengimbau para petani tembakau melakukan penanaman lebih awal demi menghasilkan komoditas yang berkualitas.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan DKPP Kabupaten Temanggung Sumarno di Temanggung, Jateng, Jumat (10/4), menuturkan langkah percepatan masa tanam ini dilakukan sebagai strategi menghadapi musim kemarau yang akan datang, sekaligus memanfaatkan sisa ketersediaan air di awal musim tanam.
"Percepatan masa tanam pada April hingga Mei 2026 dilakukan sebagai strategi menghadapi musim kemarau," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tanaman diharapkan masih mendapatkan pasokan air yang cukup dari sisa musim hujan.
Selain itu, petani juga diminta menyiapkan cadangan air di lahan untuk menyiram tanaman saat musim kemarau guna mendukung pertumbuhan.
Ia menuturkan waktu tanam yang lebih awal, penting agar musim panen dapat berlangsung saat kemarau, yakni sekitar Agustus hingga September 2026.
"Penanaman lebih dulu, lebih awal di bulan April atau Mei 2026 paling akhir untuk dapat kecukupan air. Kemudian, bisa memanfaatkan sumber air yang ada, mungkin untuk daerah sawah ada irigasinya tidak masalah, tapi daerah atas sumber air bisa dimanfaatkan," katanya.
Ia menyebutkan pada 2025 luas tanam tembakau di Temanggung mencapai sekitar 13.500 hektare. Lahan tersebut tersebar di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prahu, dengan total produksi tembakau kering sekitar 9 ribu ton.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (1)
12 Apr 2026, 07:54 WIB.
Saya petani Tembakau dari Temanggung. Dari jaman Nenek moyang sampai saat ini saya juga masih menanam tembakau.
BalasCuma bedanya kalau dulu nanam Tembakau sebanyak mungkin, dan kalau sekarang sedikit mungkin hanya buat Stok Rokok di rumah (Udutan/Lintingan). Bahkan di dusunku tiap tahun makin sedikit yang menanam tembakau . Dan memang menanam tembakau lebih awal itu hasilnya bagus di pertumbuhan . Tapi masalahnya yang bikin petani tembakau malas menanam tembakau adalah HARGA JUAL TEMBAKAU DI TEMANGGUNG TIDAK SESUAI MODAL YANG DI KELUARKAN PETANI (MURAH) . tiap tahun petani selalu rugi . Entah emang dari pusat membeli dengan harga murah atau dari pihak pedagang yang mengambil keuntungan terlalu berlebihan saya juga tidak tau pasti.
Jadi saran saya sebagai petani tembakau Temanggung . Jika Pabrik ingin kualitas terbaik sering-seringlah terjun langsung ke petani-petani kecil. Jangan hanya survei ke pedagang-pedagang/ petani yang menanam bersekala besar (tuan tanah).
?
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!