Sekolah Dasar Negeri di Yogyakarta Disiapkan Jadi Zona Aman Bencana
📅 Selasa, 13 Jan 2026, 17:40 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Dok. Pemkot Yogyakarta
YOGYAKARTA - Penguatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah dasar menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Yogyakarta. Melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Pemkot secara bertahap menyiapkan seluruh SD Negeri agar memiliki sistem perlindungan, respons, dan pemulihan yang terintegrasi menghadapi berbagai potensi bencana.
Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Yogyakarta, Iswari Mahendrarko, mengatakan kewenangan pemerintah kota dalam pelaksanaan SPAB mencakup jenjang SD dan SMP. Untuk tingkat SMP Negeri, seluruh sekolah telah lebih dulu mengikuti program tersebut.
“Untuk tingkat SMP Negeri sudah selesai tahun lalu di 16 sekolah. Iya, target semua (SD Negeri) kita,” ujar Iswari saat kegiatan simulasi bencana SPAB di SD Negeri Gedongkuning, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, hingga 2026 pelaksanaan SPAB di tingkat SD Negeri telah menjangkau 21 sekolah dari total sekitar 87 SD Negeri di Kota Yogyakarta. Setiap tahun BPBD mengalokasikan pelatihan SPAB bagi sekitar tujuh sekolah, meski pada tahun tertentu jumlah sasaran dapat bertambah hingga 12 atau 13 sekolah sesuai ketersediaan anggaran.
Selama ini, penyelenggaraan program SPAB dilaksanakan langsung oleh BPBD Kota Yogyakarta. Ke depan, pelaksanaan program tersebut akan dikoordinasikan melalui sekretariat bersama yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kota Yogyakarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Iswari menegaskan, sekolah yang telah mendapatkan pelatihan SPAB diharapkan tidak berhenti pada tahap kegiatan awal. Sekolah perlu meninjau kembali perencanaan yang telah disusun serta melaksanakan simulasi bencana secara mandiri dan berkelanjutan.
“Kemudian melakukan simulasi paling tidak setahun sekali secara mandiri bisa dilakukan tidak harus dengan biaya yang besar. Jadi kita harapkan kegiatan-kegiatan kesiapsiagaan ini menjadi budaya di sekolah,” katanya.
Ia menambahkan, meskipun Kota Yogyakarta tergolong wilayah dengan tingkat risiko bencana sekunder, kesiapsiagaan tetap menjadi kebutuhan mendesak. Dampak bencana yang berpusat di daerah sekitar, seperti erupsi Gunung Merapi, gempa bumi, atau tsunami di wilayah selatan DIY, tetap berpotensi dirasakan di wilayah kota.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Jadi memang kalau skala tingkat kebencanaan Kota Yogyakarta ini termasuk tingkat kebencanaan yang sifatnya sekunder. Tapi kita tetap harus siap siaga dalam menghadapi bencana,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Yogyakarta, Darmanto, menyebutkan peserta pelatihan SPAB akan memperoleh sertifikat. Mulai 2026, sekolah sasaran juga akan menerima piagam SPAB sebagai bentuk pengakuan kesiapsiagaan.
Menurut Darmanto, sekolah yang telah mengikuti program SPAB menunjukkan peningkatan kesiapan menghadapi bencana. Hal ini tercermin dari kemampuan sekolah melaksanakan simulasi secara mandiri dan tersedianya rambu-rambu kebencanaan di lingkungan sekolah. Pada peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana setiap 26 April, BPBD secara rutin mengimbau sekolah SPAB untuk menyelenggarakan simulasi mandiri.
“Kami berharap sekolah tidak hanya memahami konsep SPAB secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata sehingga terwujud satuan pendidikan yang aman, siap, dan tangguh dalam menghadapi ancaman bencana. Ini juga sebagai bagian dari komitmen Menuju Jogja Tangguh Bencana,” tandas Darmanto, Senin (12/1/2026).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!