Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

RS Ini Adopsi Teknologi AI untuk Pasien Gagal Jantung

📅 Selasa, 06 Feb 2024, 16:07 WIB | Oleh:
RS Ini Adopsi Teknologi AI untuk Pasien Gagal Jantung Doc: Istimewa.
Ket. Peluncuran Heart Failure Monitor untuk memonitor pasien gagal jantung dari jarak jauh yang pertama di Indonesia. 

JAKARTA - Bekerja sama dengan SPACE Singapore, Primaya Hospital memperkenalkan HFM (Heart Failure Monitor), teknologi untuk memonitor pasien gagal jantung dari jarak jauh yang pertama di Indonesia.

HFM merupakan sebuah perangkat digital yang bermanfaat untuk pemantauan jarak jauh pasien gagal jantung, yang bekerja dengan cara mendeteksi gejala yang signifikan pada pasien gagal jantung, sehingga dapat dilakukan tindakan intervensi atau penanganan dengan cepat dan tepat.

Profesor Wee Ser, Co-Founder dan CEO SPACE Singapore yang juga menjabat sebagai Emeritus Faculty di Nanyang Technological University Singapore mengatakan gelombang start-up teknologi medis yang selanjutnya akan melihat proloferasi yang masif pada perangkat medis pintar yang mengandalkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan teknologi dengan sensor, seperti perangkat yang di buat.

"Dimana dapat dilakukan asesmen dan pengelolaan secara mandiri, dapat dipersonalisasi, dan memungkinkan untuk melakukan skrining kardiopulmonari dan penyakit lainnya. Hal ini merevolusi pengelolaan layanan kesehatan di masa depan," kata Prof. Wee dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/2).

Berdasarkan data European Society of Cardiology, satu dari 5 orang di dunia memiliki resiko mengalami gagal jantung, dan angka prevalensi ini meningkat seiring penambahan usia. Menurut International Journal of Cardiology tahun 2016, di Indonesia sendiri terdapat lebih dari tiga belas juta orang yang mengalami gagal jantung.

Primaya Hospital Tangerang adalah yang pertama kali menggunakan HFM untuk pasien-pasien gagal jantung. Dr.Rony M Santoso SpJP (K) FIHA, Ahli Jantung dari Primaya Hospital menggunakan teknologi tersebut untuk memantau kondisi lebih dari 100 pasien gagal jantung di rumah.

Dia merupakan salah satu peneliti yang mengembangkan alat ini berkolaborasi dengan PT Space Singapore

Hal tersebut akan menenangkan pasien setelah mereka pulang dari rumah sakit dan saat dalam kondisi sendiri di rumah maupun saat dalam perjalanan. HFM juga bermanfaat untuk para dokter karena mereka diberikan data-data mengenai keluhan pasiennya, yang bertujuan bukan hanya untuk intervensi sesaat namun juga manajemen penyakit dengan lebih efektif, dimana pada saat ini masih sulit dilakukan.

Leona A. Karnali, CEO Primaya Hospital Group menyampaikan layanan Jantung dan Pembuluh Darah merupakan salah satu layanan unggulan Primaya Hospital Group, pihaknya melayani 1000 tindakan setiap bulannya.

"Oleh sebab itu, kami terus mengembangkan teknologi dan peralatan medis untuk membantu para dokter spesialis mengembangkan keahliannya ke prosedur dan layanan yg lebih advanced," katanya.

Ia menambahkan kalau pihaknya melayani berbagai tindakan menggunakan teknologi advanced seperti Optical Coherence Tomography (OCT) yang berguna untuk melihat kondisi arteri koroner secara 3D dan real time dan Rotablator yang digunakan untuk mengikis plak yang mengeras pada pembuluh darah, PCI (Percutaneous Coronary Intervention) Kompleks dengan Cath Lab berbasis teknologi Artificial Intelligence, tindakan PCI dengan IVUS (intravascular Ultrasound) yang merupakan perangkat pemeriksaan jaringan lunak menggunakan gelombang suara, Renal Denervasi, Ablasi untuk Aritmia, hingga bedah jantung atau Coronary Artery Bypass Graft (CABG).

"Untuk semakin meningkatkan kenyamanan pasien, layanan kami didukung oleh tenaga medis profesional dan berpengalaman, dokter ssesialis yang lengkap, teknologi yang mumpuni, fasilitas yang bersih dan pelayanan yang aman, ramah, dan cepat. Semoga dengan hadirnya Heart Failure Monitor di Indonesia dapat menjadi solusi bagi masyrakat khususnya pasien gagal jantung, dan dapat membantu pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat," tutupnya.

HFM merupakan sebuah perangkat medis berbasis AI (Artificial Intelligence) berbentuk seperti stetoskop yang disambungkan ke aplikasi handphone. Alat ini bekerja dengan mendeteksi kelebihan cairan pada paru-paru, yang merupakan gejala umum gagal jantung hanya dalam kurun waktu 30 detik setelah diletakan di dada pasien.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

27 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.