RI Harus Ambil Langkah Taktis Kejar Ketertinggalan Pengembangan AI
📅 Senin, 21 Agu 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
» Pengembangan AI di Indonesia menghadapi satu ancaman utama yakni tren menuju penutupan akses riset AI.
» Implementasi AI harus dimulai di internal Pemerintah agar bisa memangkas belanja pegawai dan rantai perizinan.
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan Nota Keuangan di Jakarta pekan lalu mengatakan cepat atau lambat perkembangan digitalisasi dan Artificial Intelligent (AI) atau kecerdasan buatan bakal semakin penting dan mendominasi kehidupan perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
Sebab itu, Pemerintah dan masyarakat diingatkan mengadopsi teknologi tersebut agar bisa mendapat manfaat yang maksimal.
"Adopsi teknologi dalam perekonomian dapat memberikan manfaat yang signifikan apabila dihadapi dengan strategi yang tepat. Pembangunan kualitas sumber daya manusia, infrastruktur fisik dan nonfisik terkait teknologi informasi terus ditingkatkan," kata Presiden.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seorang analis pasar kerja dan penasihat bisnis, Eli Amdur, di Forbes menyatakan AI juga membutuhkan lebih banyak keterampilan dan penguasaan daripada yang lainnya. Setidaknya ada 17 keterampilan (skill) yang dibutuhkan oleh para teknisi AI.
"Keahlian teknisi AI berkisar dari yang konseptual dan abstrak, hingga yang konkret dan dapat diprediksi," kata Amdur mengutip kliennya, seorang konsultan bernama Christine.
Tanpa urutan khusus, 17 skill yang ada dalam daftar Christine, empat di antaranya merupakan soft skill, kebutuhan mendasar di seluruh bidang, apa pun profesinya. Pertama, ketrampilan mengenai bahasa pemrograman, lalu kerangka kerja dan pustaka AI, Neural Networks dan Deep Learning, Machine Learning, Matematika, Manipulasi dan Analisis Data, Natural Language Processing (NLP), Computer Vision, Reinforcement Learning dan Version Control.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selanjutnya, para teknisi AI juga harus menguasai Komputasi Awan, Evaluasi Model dan Penyesuaian Hyperparameter, Penerapan dan Penskalaan Etika dan Bias AI, Kolaborasi dan Komunikasi, Pembelajaran Berkelanjutan dan terakhir Problem-solving dan Kreativitas.
Sekjen Jogja Startup Foundation, Galuh Koco Sadewo mengapresiasi peringatan Presiden Jokowi untuk mengadopsi AI dan menempatkannya sebagai bagian integral dalam pengembangan ekonomi Indonesia. Peringatan tersebut harus disambut kementerian dan lembaga seperti BRIN untuk segera mengambil langkah taktis mengejar ketertinggalan Indonesia dalam pengembangan AI.
"Tantangan yang dihadapi semakin kompleks dan selama ini kita telah bergantung pada solusi AI dari luar, baik berupa perangkat lunak (Software as a service, SaaS) maupun algoritma. Meskipun masih ada peluang untuk terus mengikuti perkembangan global, perlu diwaspadai potensi risiko. Tentunya lembaga pemerintahan yang menangani hal ini perlu paham terhadap perkembangan teknologi AI sehingga bisa mengikuti," papar Galuh yang sehari-hari mengembangkan AI sebagai Chief Business & Partnership Botika, salah satu perusahaan AI di Indonesia.
Pengembangan AI di Indonesia saat ini katanya menghadapi salah satu ancaman utama yakni tren menuju penutupan akses riset AI, yang dapat mengurangi ketersediaan sumber daya dan informasi yang dibutuhkan.
Indonesia katanya masih beruntung karena banyak riset AI yang dapat diakses oleh publik saat ini. Namun, Indonesia perlu memperhatikan pergeseran menuju riset tertutup, seperti yang terjadi dengan ChatGPT yang awalnya berbasis open source namun kini menjadi closed source setelah dikembangkan oleh OpenAI.
SDM Andal
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!