Pemerintah Aktifkan Bond Stabilization Fund, Ekonom Wanti-Wanti Pasar Kehilangan Disiplin
📅 Jumat, 08 Mei 2026, 21:35 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Rencana pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) memang dapat membantu meredam gejolak pasar obligasi dan menjaga stabilitas rupiah, namun pemerintah juga perlu mewaspadai sejumlah risiko jangka panjang.
Salah satunya adalah munculnya moral hazard, ketika pelaku pasar menjadi terlalu bergantung pada intervensi pemerintah dan mengabaikan risiko investasi karena merasa pasar akan selalu diselamatkan saat terjadi tekanan.
Selain itu, intervensi yang terlalu sering berpotensi menciptakan distorsi harga di pasar obligasi sehingga mekanisme pasar tidak berjalan secara sehat.
Ketergantungan investor terhadap dukungan BSF juga dapat mengurangi disiplin pasar dan memperbesar beban fiskal apabila tekanan global berlangsung berkepanjangan.
Karena itu, penggunaan BSF sebaiknya bersifat terukur, sementara penguatan fundamental ekonomi, pendalaman pasar keuangan, dan peningkatan kepercayaan investor tetap menjadi solusi utama menjaga stabilitas jangka panjang
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya melihat BSF ini efektif sebagai alat stabilisasi jangka pendek, tetapi tidak bisa dijadikan solusi permanen. Yang juga perlu diperhatikan adalah risikonya," kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi di Jakarta, Jumat (8/5).
Pada risiko moral hazard, Yusuf menjelaskan bahwa ekspektasi investor terhadap kehadiran pemerintah yang selalu menjaga harga obligasi dapat mendorong perilaku pengambilan risiko yang lebih agresif.
Dalam kondisi tersebut, sebagian pelaku pasar cenderung masuk saat imbal hasil (yield) tinggi dan keluar ketika pasar kembali stabil, sehingga pada akhirnya negara berpotensi menjadi penyangga bagi perilaku spekulatif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Risiko kedua adalah distorsi harga. Yusuf mengingatkan bahwa pasar obligasi seharusnya berfungsi sebagai sarana pembacaan risiko yang jujur melalui pergerakan yield.
Namun, jika intervensi dilakukan secara terlalu dominan, maka harga obligasi berpotensi tidak lagi sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi
"Dalam jangka pendek mungkin terlihat tenang, tetapi pasar kehilangan fungsi price discovery-nya," ujar dia.
Kemudian, risiko ketiga adalah tekanan fiskal. Ia menilai terdapat paradoks bahwa pemerintah bisa saja menambah beban fiskal demi menjaga stabilitas pasar utang, sehingga jika BSF digunakan secara agresif justru berpotensi menambah tekanan terhadap APBN.
Selanjutnya, Yusuf juga menyoroti risiko kaburnya batas antara kebijakan fiskal dan moneter.
Meskipun BSF berada di ranah fiskal, dampaknya menyerupai operasi pasar bank sentral.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!