Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pasar Karbon Harus Jadi Instrumen untuk Transisi Energi

📅 Senin, 04 Okt 2021, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pasar Karbon Harus Jadi Instrumen untuk Transisi Energi Doc: Sumber: International Energy Agency (IEA) - afp

» Indonesia dalam pasar karbon harus konsisten menjalankan kebijakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

» Rencana pemerintah mengenalkan mekanisme pasar karbon kepada dunia lebih didasari pertimbangan ekonomi.

JAKARTA - Niat pemerintah memperkenalkan pasar karbon kepada dunia setelah mendapat persetujuan dari parlemen dinilai sebagai langkah positif untuk menekan efek gas rumah kaca (GRK). Namun, niat tersebut dinilai perlu dikebut dengan aturan-aturan dan target yang jelas.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, di Jakarta, Minggu (3/10), mengatakan sebenarnya sudah banyak negara di dunia yang menerapkan carbon pricing dalam bentuk pajak karbon atau nilai karbon mekanisme pasar/emissio dengan skema perdagangan.

"Indonesia relatif terlambat, dasar hukum penerapan nilai ekonomi karbon baru disusun dan belum tahu kapan mulai diimplementasikan," kata Fabby.

Pemerintah sendiri masih perlu banyak persiapan dalam pemberlakuan nilai ekonomi karbon. Persiapan itu mulai dari sektor yang ditargetkan, penetapan mekanisme yang sesuai, harga pajak karbon atau floor price untuk perdagangan karbon, tahap pelaksanaan dan estimasi penurunan emisi karbon dari penerapan instrumen itu.

"Apa yang disampaikan Menteri Keuangan cukup positif, tapi perlu diingat, pelaksanaannya yang penting. Saya kira kalau persiapan mulai dilakukan tahun ini, baru 2-3 tahun mendatang mekanisme nilai ekonomi karbon baru bisa diterapkan," katanya.

Selain itu, pajak karbon, jelasnya, jangan hanya dipandang sebagai sumber penerimaan negara, tetapi harus diingat bahwa instrumen itu sebagai alat kebijakan (policy tool) untuk mendorong transformasi ekonomi hijau dan transisi energi.

Sementara itu, Pakar Ekonomi dari Universitas Atmajaya Jakarta, Yohanes Suhartoko, mengatakan Indonesia sebagai pemilik hutan tropis yang luas, mempunyai potensi sebagai suplier oksigen dunia yang bisa mengurangi emisi karbon dunia.

Sebagai suplier oksigen tentu akan menguntungkan Indonesia dan dunia, karena ada tuntutan dari masyarakat global akan pentingnya energi hijau guna memerangi polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil yang kotor.

"Ada dua keuntungan yang bisa diraih, di antaranya hutan tropis Indonesia akan semakin lestari karena ada dana pembiayaannya. Keuntungan lainnya, skema utang luar negeri Indonesia yang dikaitkan dengan penawaran oksigen bisa lebih murah. Namun demikian, masuknya Indonesia dalam pasar karbon harus dibarengi konsistensi Indonesia menjalankan kebijakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan," kata Suhartoko.

Kalau Indonesia sungguh-sungguh masuk pasar karbon maka harus dimulai dari dalam negeri terlebih dahulu. "Kalau kita masuk pasar karbon konsekuensi kita harus green economy," tegas Suhartoko.

Perubahan Iklim

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Harga Cabai di Mataram Turu...
Megapolitan
Polisi Buru Pelaku Pencuria...
Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.