Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Orang Indonesia terlalu Bergantung ke Beras, Konsumsi Capai 92 kg per kapita per tahun

📅 Jumat, 11 Jul 2025, 15:22 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Orang Indonesia terlalu Bergantung ke Beras, Konsumsi Capai 92 kg per kapita per tahun Doc: Bapanas
Ket. Ketergantungan pada beras sangat tinggi, Bapanas/NFA mendorong diversifikasi ke pangan lokal

Badan Pangan Nasional (Bapanas/NFA) terus memperkuat upaya diversifikasi konsumsi pangan dengan mengoptimalkan potensi sumber daya lokal. Langkah ini merupakan implementasi dari amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal. Perpres tersebut menegaskan pentingnya pangan lokal sebagai fondasi sistem pangan nasional yang mandiri, sehat, dan berkelanjutan.

Kepala NFA, Arief Prasetyo Adi, menegaskan bahwa pengembangan pangan lokal bukan sekadar solusi untuk ketahanan pangan, tetapi merupakan bagian dari transformasi menyeluruh ekosistem pangan nasional.

"Perpres 81/2024 merupakan peta jalan yang kuat untuk mempercepat penganekaragaman konsumsi pangan. Dengan memanfaatkan potensi pangan lokal seperti sorgum, sagu, jagung, singkong, dan sukun, kita tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah,” ungkap Arief dalam keterangannya, Kamis (10/7).

Komitmen ini salah satunya diwujudkan dalam kegiatan panen dan pengolahan pascapanen sorgum yang dilaksanakan di Sorgum Center Indonesia – Sekemala Integrated Farming (SEIN Farm), Kota Bandung, Rabu (9/7). 

"Kita ingin tidak lagi bergantung hanya pada beras dan terigu. Kita punya sumber karbohidrat lain yang luar biasa: singkong, sagu, jagung, pisang, sukun, dan tentu saja sorgum. Diversifikasi pangan ini harus kita dorong, termasuk melalui pengembangan sorgum di Kota Bandung yang sudah terbukti adaptif dan bernilai ekonomi,” jelas Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan NFA, Andriko Noto Susanto, yang hadir dalam kegiatan tersebut. 

Andriko menambahkan bahwa pangan lokal harus masuk dalam sistem ekonomi nasional. "Pak Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya kemandirian pangan. Sorgum dan pangan lokal lainnya bisa jadi penguat utama. Jika dikembangkan serius, ini bisa memperkaya pangan sumber karbohidrat selain beras dan terigu serta menciptakan nilai ekonomi baru. Apalagi sudah ada outlet seperti Koperasi Desa Merah Putih dan program Makan Bergizi Gratis yang bisa menyerap hasilnya,” ungkapnya.

Meski begitu, ia menyadari masih ada tantangan besar, terutama dari sisi preferensi konsumsi masyarakat yang masih sangat tinggi terhadap beras. Berdasarkan Direktori Konsumsi Pangan Nasional 2024, konsumsi beras di Indonesia mencapai 92 kg/kapita/tahun, jauh melebihi singkong (8,5 kg), kentang (2,5 kg), ubi jalar (3,1 kg), dan sagu (0,6 kg).

"Kami menyadari hambatan ini. Maka promosi, edukasi, dan kampanye terus kami lakukan. Melalui program B2SA Goes to School, kami ingin anak-anak sekolah mengenal, mengonsumsi, dan mencintai pangan lokal sejak dini. Sepanjang tahun 2024 kemarin kami telah menjangkau 380 sekolah di 38 provinsi dan lebih dari 80 ribu siswa,” terang Andriko.

Sorgum jadi Alternatif

Upaya ini mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kota Bandung. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, menilai sorgum sebagai salah satu alternatif pangan yang layak dikembangkan.

"Sorgum bisa menjadi alternatif pangan karena memiliki keunggulan dari sisi nutrisi dan ekonomi. Hampir seluruh bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan. Ini jelas mendukung ketahanan sekaligus kemandirian pangan berbasis potensi pangan lokal,” katanya.

Senada dengan itu, Direktur Sorgum Center Indonesia, Wisnu Cahyadi, mengungkapkan bahwa pengembangan sorgum merupakan hasil kolaborasi antara riset dan praktik lapangan yang mengedepankan keberlanjutan.

"Sorgum adalah tanaman yang tahan iklim, cepat panen, dan bernilai ganda. Bersama Universitas Pasundan dan BRIN, kami mengembangkan sorgum menjadi pangan, pakan, hingga energi alternatif. Ini bentuk nyata bahwa pangan lokal bisa menjawab tantangan masa depan,” ujar Wisnu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.00...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.