Misteri dan Mitos 1 Suro: Larangan Aneh, Kepercayaan Gaib, dan Penjelasan Islam yang Mengejutkan!
📅 Senin, 23 Jun 2025, 09:42 WIB | Oleh: Alfina Febriyana
Doc: Freepik
JAKARTA - Malam 1 Suro dikenal sebagai malam sakral dalam budaya Jawa yang menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa. Tradisi ini disambut dengan berbagai ritual, pantangan, dan larangan yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Meski banyak diyakini, sebagian besar ternyata hanyalah mitos dan beberapa bahkan tak sejalan dengan ajaran Islam.
Lantas, apa saja mitos malam 1 Suro yang dianggap keramat masyarakat khususnya di Jawa? Berikut ulasannya lengkap beserta pandangan Islam.
7 Mitos Malam 1 Suro yang Masih Diyakini
1. Dilarang Keluar Rumah
Dipercaya keluar rumah pada malam Suro dapat mengundang kesialan atau gangguan gaib. Karena itu, banyak orang memilih mengurung diri di rumah hingga pagi.
Sebaiknya Anda baca juga:
2. Tidak Boleh Bicara atau Bersuara
Ritual Tapa Bisu dan Mubeng Benteng di Yogyakarta dilakukan dengan berdiam diri tanpa sepatah kata pun sebagai simbol kesunyian dan kontemplasi.
3. Hajatan Dianggap Pamali
Menikah atau menggelar pesta di bulan Suro diyakini akan membawa bencana. Namun menurut Islam, tidak ada larangan waktu tertentu untuk pernikahan, termasuk di bulan Muharram.
4. Menjaga Lisan, Jangan Berkata Kasar
Masyarakat percaya kata-kata buruk yang diucapkan saat malam 1 Suro menjadi kenyataan. Maka, menjaga ucapan menjadi kewajiban spiritual.
Sebaiknya Anda baca juga:
5. Ancaman dari Makhluk Halus
Dipercaya makhluk gaib berkeliaran di malam ini mencari orang yang lalai, membuat malam Suro semakin dianggap angker.
6. Pantangan Pindah Rumah atau Membangun
Aktivitas seperti pindahan atau membangun rumah dipercaya membawa nasib buruk bila dilakukan saat bulan Suro.
7. Tradisi Ruwatan untuk Menolak Bala
Dilakukan untuk membersihkan sukerta atau energi negatif, terutama bagi anak-anak dengan ciri tertentu. Ruwatan dipercaya melindungi dari bahaya Bhatara Kala, sosok mistis penguasa kejahatan.
Pandangan Islam: Antara Muliakan Bulan dan Tolak Tahayul
Secara historis, malam 1 Suro dipilih Sultan Agung untuk menyatukan penanggalan Hijriah dan Saka dalam kalender Jawa. Bulan ini bersamaan dengan bulan Muharram dalam kalender Islam yang termasuk dalam empat bulan mulia (asyhurul hurum).
Dalam Islam, bulan Muharram dimuliakan, tetapi tidak ada anjuran untuk melakukan ritual mistik atau larangan khusus seperti yang dipercaya sebagian masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!