Menkes: Lonjakan Covid-19 Disebabkan Oleh Varian Baru
📅 Rabu, 04 Jan 2023, 00:01 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Sumber: Covid19.go.id
JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menyebut mobilitas atau pergerakan masyarakat tidak terlalu memengaruhi lonjakan kasus Covid-19, tetapi kenaikan kasus korana disebabkan oleh munculnya varian-varian baru.
"Memang lonjakan gelombang Covid-19 disebabkan oleh varian baru, data saintifiknya begitu, bukan oleh pergerakan atau mobilitas, itu minor," kata Menkes, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di Jakarta, Selasa (3/1).
Seperti dikutip dari Antara, Menkes menjelaskan kenaikan kasus signifikan di sejumlah negara di Eropa dan Tiongkok saat ini karena varian BA.5, BA.2.75, dan BF7. Ketiga varian tersebut sebenarnya sudah masuk ke Indonesia.
Namun, kata Menkes, Indonesia sudah melewati fase puncak kenaikan kasus BA5.2 dan B.2.75. Saat dunia disibukkan dengan kenaikan dua varian tersebut, Indonesia justru angka kasusnya telah menurun.
Sementara itu, varian BF7 yang teridentifikasi di Indonesia pada Juli 2022 di Bali tak membuat kenaikan kasus secara signifikan. "Jumlah kasus BF7 (terkonfirmasi) 15, dan tidak ada pergerakan naik," kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Budi menyebut terkendalinya angka Covid-19 di Indonesia karena sistem kekebalan tubuh masyarakat telah terbentuk. Masyarakat yang telah mendapat vaksinasi dan kemudian terinfeksi, membuat imunitas menjadi lebih kuat.
Berbeda halnya dengan di Tiongkok. Menurut Menkes, Tiongkok yang menerapkan penguncian wilayah yang ketat membuat imunitas alami masyarakat tidak terbentuk sehingga terjadi lonjakan kasus.
"Alhamdulillah, imunitas penduduk kita kuat, kombinasi dari vaksinasi dan infeksi. Jadi, ada yang secara buatan kita suntik, tapi secara alamiah terjadi. Jadi, di Tiongkok karena lockdown-nya sangat ketat, yang alamiah itu tidak sebanyak di Indonesia, tidak terbentuk," kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berkaca pada kondisi tersebut, pemerintah kemudian mencabut aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
"Jadi, kita merasa tidak perlu mengetatkan kegiatan masyarakat karena imunitasnya sudah tinggi," kata dia.
Kebijakan Masker
Sementara itu, pakar kesehatan Griffith University Australia, Dicky Budiman, minta Indonesia tetap mengikuti anjuran dan aturan terbaru dari Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) terkait dengan kebijakan penggunaan masker.
"Mohon diingat, Indonesia adalah salah satu negara dengan excess death tinggi di dunia selama pandemi. Artinya, infeksi yang tidak tercatat sangat banyak," kata Dicky.
Dicky menuturkan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta daerah dengan tingkat penularan yang luas, untuk memakai masker medis terutama bagi orang-orang yang bekerja di area klinis seperti fasilitas kesehatan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!