Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

KPNas: Pemulung dan Warga Sekitar TPA Rentan Terkena Penyakit, Siapa Bertanggung Jawab?

📅 Selasa, 07 Feb 2023, 14:34 WIB | Oleh:
KPNas: Pemulung dan Warga Sekitar TPA Rentan Terkena Penyakit, Siapa Bertanggung Jawab? Doc: Koran Jakarta/KPNas
Ket. Sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda memeberikan edukasi kesehatan kepada pemulung dan warga di sekitar TPST Bantargebang. Kelompok masyarakat ini rentan terkena berbagai penyakit.

JAKARTA - Sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda mengunjungi dan melakukan pemeriksaan kesehatan pemulung dan warga yang tinggal di sekitar TPST Bantargebang. Kelompok masyarakat ini rentan terkena berbagai penyakit.

Pada 25 Januari lalu, Centre for Indonesian Medical Student' Activities (CIMSA) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melakukan observasi dan pembuatan video berkaitan dengan aktivitas dan kesehatan pemulung.

Sejumlah pemulung anak, perempuan dan pedagang di zona III diwawancara. Selanjutnya wawancara pengepul sampah tak jauh dari kantor TPST Bantargebang. Pengepul ini dulunya pemulung. Kini hidupnya makin mapan.

Menurut Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup dan Persampahan Indonesia (YPLHPI), Bagong Suyoto, pemulung dan orang miskin tidak mudah mendapatkan hak asasi dasar, seperti hak kesehatan, hak pangan, hak pendidikan, dan lainnya.

"Meski sudah diakui oleh PBB dalam Deklarasi HAM, UUD 1945, UU HAM. Semua harus diperjuangkan dengan keras agar pengambil keputusan dan pemerintah mendengar, mengimplementasikan, melayani, memenuhi dan melindunginya," kata Bagong dalam keterangan tertulisnya, Selasa (7/2).

Sampai saat ini, kata Bagong, pemulung hidup di gubuk petak yang dibangun dari bahan-bahan bekas. Mereka mengandalkan material yang ada di sekitar. Atapnya dari terpal bekas, seng bekas, atau material lain yang ditindih dengan ban bekas agar tidak disapu angin. Lantainya plastik atau karpet bekas yang dipungut dari TPST/TPA.

"Para pemulung tinggal dalam pemukiman tercemar sampah. Yang menyedihkan, mereka tinggal di lokasi rawan banjir. Bahkan sejumlah gubuk pemulung nyaris ditelan air hujan bercampur leachate (air dari timbunan sampah yang terkena hujan,red)," katanya.

Bagong melanjutkan, hidup pemulung di pemukiman kumuh dengan sanitasi buruk dan lingkungan tercemar, kekurangan pangan, air bersih, udara bersih dan layanan kesehatan merupakan musibah kemanusiaan.

"Akarnya adalah kemiskinan absolut dan struktural. Biasanya antara kemiskinan dan pencemaran lingkungan memiliki kaitan erat. Setidaknya kaum miskin hidup dalam pemukiman kurang sehat, lebih-lebih mereka yang tinggal di pinggiran kota dan kisaran TPA sampah," paparnya.

Berdasarkan temuan lapangan di kawasan TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu dan sekitar di antaranya, pemulung bekerja di pembuangan sampah tempat tercemar, sebagian pemulung dan tukang sortir bergelut dengan limbah medis dan limbah B3, pendidikan rendah, buta hukum dan HAM, hidup dalam kemiskinan laten dan structural, pendapatan kecil, hidupnya tergantung pada bos lapak, terjerat rente, pemukiman kumuh, sanitasi buruk, dan lingkungan tercemar.

Gubuk pemulung rentan terbakar, ada yang tak punya identitas; tanpa air bersih; MCK seadanya, ketahanan pangan ringkih, mengais sisa-sisa makanan di TPST/TPA, kesehatan terancam, belum punya BPJS kesehatan, sulit berobat ke rumah sakit, jika mati cari tempat pemakaman sulit, anak-anak ikut mengais sampah, tempat bermain rawan dan tercemar.

Bagong menjelaskan, penyakit di Sumurbatu antara lain, pertama, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) berasal dari udara relatif kotor dari TPST/TPA. Kedua, alergi kulit karena kondisi air, kebersihan, lingkungan rumah. Ketiga, infeksi kulit seperti kutu air, menyerang saat musim hujan dan lingkungan sampah yang tergenang air.

Kempat, infeksi paru-paru, secara spesifik merupakan TBC yang dibuktikan dengan hasil rontgen. Gejalanya batuk, batuk darah, berat badan turun, status gizi rendah. Kelima, mencret (muntaber) dialami saat musim hujan, makan atau air minum kotor.

"Ada 20 penyakit lagi di UPTD Bantargebang pada 2017 yang menyerang para pemulung dan warga sekitar TPST. Bila ditidak ditangani segera secara medis akan semakin akut dan akibatnya fatal, bisa menyebabkan kematian," kata Bagong.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Diserang Rudal Iran, Bandar...
Luar Negeri
Warga Singapura Makin Panja...
Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

48 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.