Kisah Orang Tugutil di Pedalaman Halmahera yang Terimpit Raksasa Tambang dan Kayu
📅 Senin, 01 Jan 2024, 11:46 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Luh Kitty Katherina, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Achsanah Hidayatina, M.Sc, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Intan Adhi Perdana Putri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Syarifah Aini Dalimunthe
Awal November lalu, beredar sebuah video yang menggambarkan dua orang yang berani mengusir buldoser untuk melindungi hutan mereka.
Dengan judul yang menarik, "Viral, Suku Pedalaman di Halmahera Halau Buldoser untuk Lindungi Hutan," video ditonton lebih dari 3 juta kali dan memancing komentar warganet.
Dalam keterangannya, video tersebut menginformasikan bahwa dua orang itu adalah O'Hongana Manyawa, atau Orang Tugutil yang mendiami sebagian wilayah pulau tersebut.
Kami merasa bingung. Kami sebelumnya pernah menemukan video serupa dua tahun lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Terlepas dari kebenarannya, video ini seperti memperpanjang daftar stereotipe masyarakat terhadap Orang Tugutil yang kerap dianggap sebagai pembunuh jahat, bahkan dianggap sebagai orang tidak berbudaya.
Apakah benar begitu?
Dua tahun lalu, kami, tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI (kini menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mengadakan penelitian lapangan seputar Orang Togutil di Halmahera Timur. Selama 15 hari, kami mendatangi beberapa kelompok Orang Tugutil, mengobservasi titik-titik hunian mereka di luar maupun di dalam hutan, dan mewawancarai beberapa di antaranya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kami mendapati bahwa kehidupan mereka semakin berubah karena terdesak oleh maraknya alih fungsi hutan akibat aktivitas pertambangan dan industri kayu. Namun, kami mengamati kehidupan mereka justru jauh dari stigma negatif yang beredar di masyarakat.
Mengenal Orang Tugutil
Berdasarkan diskusi kami dengan Syaiful Madjid, sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Ternate, terungkap bahwa Orang Tugutil tersebar di empat daerah. Kehidupan mereka terpisah-pisah dalam 16 kelompok di Pulau Halmahera.
Di tengah upaya pemerintah provinsi untuk memukimkan Orang Tugutil, mereka tetap setia pada kehidupan subsisten mereka di hutan. Dalam dialek lokal, mereka menyebut diri mereka sebagai O'Hongana Manyawa atau Orang yang Tinggal di Hutan.
Artinya, mereka merupakan juga bagian dari Suku Tobelo, mayoritas suku yang ada di Pulau Halmahera. Selain O'Hongana Manyawa, Syaiful Madjid mengatakan bahwa ada Suku Tobelo lainnya O'Hoberera Manyawa (Orang Tobelo yang tinggal di pesisir).
Kami memilih Kabupaten Halmahera Timur sebagai lokasi penelitian karena menurut beberapa sumber, mayoritas Orang Tugutil berada di wilayah ini. Secara khusus kami melihat bahwa Orang Tugutil di Halmahera Timur dibagi menjadi dua kelompok.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!