Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ketidakpastian Global Bakal Pengaruhi Permintaan Ekspor RI

📅 Kamis, 23 Jan 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ketidakpastian Global Bakal Pengaruhi Permintaan Ekspor RI Doc: antara
Ket. Bank Indonesia (BI) optimistis perekonomian Indonesia tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun 2024.

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) optimistis perekonomian Indonesia tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun 2024. Bahkan pertumbuhan ekonomi diperkirakan terus naik dalam beberapa tahun ke depan.

Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam “Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2024” yang dipantau di Jakarta, Rabu (22/1) memperkirakan ekonomi Indonesia tahun ini akan tumbuh berkisar 4,7- 5,5 persen dan naik menjadi 4,8-5,6 persen pada 2026.

Otoritas moneter itu juga yakin inflasi akan terkendali 2,5 plus minus 1 persen. Begitu pula rupiah akan dijaga stabil agar ekonomi Indonesia terus tumbuh. Penyaluran kredit didorong untuk bisa tumbuh antara 11 sampai 13 persen. Kemudian, digitalisasi ekonomi Indonesia juga akan terus berlanjut.

1737567932_ae35a29d32192ff30f06.jpg

Perang Dagang

Menanggapi pernyataan bank sentral itu, pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dian Anita Nuswantara, mengatakan, prospek kinerja perekonomian mungkin tidak secerah optimisme Bank Indonesia, karena situasi global akan sangat berpengaruh.

“Kita punya kebergantungan pasar ekspor komoditas yang besar ke Tiongkok seperti batubara, minyak sawit, dan lain-lain. Sementara dengan berkuasanya kembali Trump yang kita tahu sangat hawkish ini akan jelas akan mempengaruhi kinerja Tiongkok sendiri,” kata Dian.

Kalau perang dagang jilid Trump dengan Tiongkok meletus, maka dampaknya akan langsung terasa. Karena proteksionisme yang dijalankan Trump bisa melemahkan perekonomian Tiongkok yang pada giliriannya permintaan komoditas keIndonesia akan

Turun.

Pada kesempatan terpisah, pengamat kebijakan publik Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2025 dan 2026 mengacu asumsi yang terlalu optimistis itu akan diuji dinamika ekonomi global seperti ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi dan potensi krisis keuangan di negara maju serta fluktuasi harga komoditas dunia.

Proyeksi BI itu juga akan menghadapi tantangan struktural dari sektor-sektor utama penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB). Sektor industri pengolahan yang selama ini cukup tinggi di kisaran angka 18-20 persen ke PDB yakni yang berbasis sumber daya alam dan manufaktur, sektor perdaganagan besar dan kecil (13-15 persen dan sektor pertanian 12-14 persen.

“Perlu mitigasi yang baik, agar pertumbuhan ekonomi berdampak pada kesejahteraan masyarakat,”ungkap Badiul.

Peningakatan konsumsi domestik dan pembangunan infrastruktur besar seperti IKN ujarnya diharapkan dapat menjadi penggerak perekonomian, karena sektor ini berkontribusi sekitar 10-12 ke PDB selama ini.

“Kebergantungan pada sektor konsumsi dan infrastruktur akan berdampak jika belanja pemerintah efektif,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Pemutihan Pajak Kendaraan B...
Megapolitan
30 Rumah di Tanah Tinggi Ja...
Megapolitan
Dua WNA Ditemukan Meninggal...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.