Investor Khawatir Trump Tidak Beri Perpanjangan, Rupiah Mulai Tertekan
📅 Selasa, 15 Jul 2025, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: Bank Indonesia - koran jakarta /ones
JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah kembali melemah karena pengaruh sentimen atas indikasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang tidak akan memperpanjang batas waktu penerapan tarif resiprokal pada 1 Agustus 2025.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan kebijakan tarif Trump akan berlaku efektif mulai 1 Agustus, sehingga memberikan waktu terbatas bagi negara-negara ekonomi utama untuk menyelesaikan lebih banyak kesepakatan perdagangan dengan Washington.
Akhir pekan lalu, Trump telah mengumumkan penerapan tarif 30 persen untuk Meksiko dan Uni Eropa (UE). Beberapa negara lainnya juga dikenakan tarif, seperti Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing 25 persen, 50 persen untuk Brasil, serta 50 persen impor tembaga.
Sementara dari domestik, Bank Indonesia (BI) melaporkan jumlah utang luar negeri Indonesia pada Mei 2025 naik 4,05 miliar dollar AS atau sekitar 66 triliun rupiah menjadi 435,6 miliar dollar AS atau sekitar 7.100,28 triliun rupiah dengan asumsi kurs JISDOR BI 16.300 rupiah per dollar AS pada akhir Mei 2025.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin (14/7) di Jakarta melemah sebesar 32 poin atau 0,20 persen menjadi 16.224 per dollar AS dari sebelumnya 16.218 rupiah per dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari itu juga melemah ke level 16.247 rupiah per dollar AS dari sebelumnya sebesar 16.221 rupiah per dollar AS.
Faktor Fundamental
Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi yang diminta pendapatnya mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari eksternal, seperti kebijakan moneter The Fed, yang masih mempertahankan suku bunga tinggi. Sedangkan, dari internal, defisit transaksi berjalan yang semakin melebar akibat tekanan impor dan lemahnya ekspor. Begitu juga dengan ketidakpastian politik domestik, termasuk transisi pemerintahan dan arah kebijakan fiskal 2025.
“Tarif Trump salah satunya, bukan satu satunya, justru faktor fundamental makroekonomi ada di dalam negeri yang kurang solid. Misalnya tekanan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali. Selain itu kinerja APBN yang ketat, dan kebutuhan pembiayaan utang dan pembelian valas oleh korporasi domestik,” kata Badiul.
Jika ditelaah lebih dalam jelasnya, Tarif resiprokal AS lebih berdampak terhadap negara-negara eksportir besar ke AS seperti Tiongkok, Meksiko, dan negara negara Uni Eropa. Sementara Indonesia bukan pemain utama dalam daftar tersebut. Transmisi dampaknya ke rupiah lebih bersifat tidak langsung, melalui jalur ketidakpastian global atau pelemahan ekonomi mitra dagang utama, bukan sebagai faktor utama depresiasi.
Oleh sebab itu, penting bagi Pemerintah memperkuat koordinasi fiskal-moneter secara responsif. Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) harus meningkatkan koordinasi strategis untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali, mengelola suku bunga dan pasokan likuiditas agar tidak mendorong pelemahan rupiah lebih lanjut dan menjaga kredibilitas pasar melalui komunikasi publik yang transparan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!