Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ikuti Permintaan Pasar, Perajin Besek Bambu di Kabupaten Magetan Tetap Bertahan

📅 Minggu, 05 Apr 2026, 14:55 WIB | Oleh:
Ikuti Permintaan Pasar, Perajin Besek Bambu di Kabupaten Magetan Tetap Bertahan Doc: antara foto
Ket. Kerajinan besek bambu di Kabupaten Magetan, Jatim.

MAGETAN - Perajin besek dari bahan baku bambu di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur (Jatim) tetap bertahan dan diminati dengan terus berkreasi mengikuti permintaan pasar.

Perajin besek dari anyaman bambu desa setempat, Indah di Magetan, Minggu (5/4) mengatakan, untuk tetap eksis pihaknya gencar berinovasi dan memasarkan produknya itu dengan cara daring melalui media sosial maupun luring.

"Mayoritas di sini memang membuat besek. Dulu, bentuknya sederhana, kotak polos dan tanpa variasi. Namun seiring waktu, para perajin berinovasi dengan menciptakan berbagai bentuk dan warna," ujar Mbak Indah, sapaan akrabnya.

Menurutnya, usaha kerajinan besek tersebut sudah ditekuni sejak puluhan tahun. Hal itu mengikuti jejak para perempuan di kampungnya yang juga menggantungkan hidup dari anyaman bambu.

Saat masa pandemi Covid-19, usahanya malah semakin ramai pesanan. Besek justru menjadi pilihan utama sebagai wadah makanan yang dibawa pulang.

"Waktu pandemi Covid-19 melanda, pesanan malah ramai. Dari situlah, inovasi mulai tumbuh," kata Mbak Indah.

Permintaan konsumen yang semakin beragam, juga mendorong perubahan desain oleh para perajin. Tak lagi hanya berbentuk kotak, kini besek hadir dengan variasi ada pegangan, warna-warni cerah, hingga model jinjing yang lebih menarik.

"Ada juga atas permintaan konsumen dari lihat di gambar. Dari situ, Kita ya belajar juga," katanya.

Saat ini, ia mengaku telah membuat lebih dari tujuh desain dengan tingkat kesulitan yang berbeda untuk menarik minat pembeli. Salah satu yang paling sulit adalah besek kecil dengan variasi tambahan pegangan.

Sebab, dalam pembuatannya membutuhkan ketelitian dan detail anyaman yang lebih rumit.

"Warna dan model bisa disesuaikan dengan permintaan pembeli, dari merah, hijau, hingga kombinasi warna-warni yang menarik," katanya.

Terkait harga, sangat bervariasi. Untuk yang kecil dihargai mulai Rp4.000 per buah. Sedangkan besek ukuran besar atau desain khusus bisa dihargai hingga Rp20.000, tergantung bentuk dan tingkat kesulitan.

Dalam sehari, ia bisa memproduksi puluhan besek, tergantung jenisnya. Untuk pesanan khusus, produksi dilakukan berdasarkan permintaan. Ia juga tak bekerja sendiri, hasil anyaman besek dari tetangga sekitar ikut ia tampung kemudian dipasarkan.

Selain itu, bambu sebagai bahan utama juga mudah didapat. Kadang ia membeli, kadang mengambil sendiri dari rumpun bambu di sekitar desa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.00...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.